Beranda / Seni dan Sastra / Cerpen / Nyambut Gawe

Nyambut Gawe

ان صلاتي ونسكي ومحياي ومماتي لله ربّ العالمين

Sore hari di teras rumah, kakekku duduk menikmati hangat matahari sore ditemani dengan teh hangat yang dibuat oleh nenek. Usianya yang sudah memasuki senja, membuat beliau kesulitan membaca surat kabar sore. Seperti biasa beliau akan duduk disitu dengan kacamata rabun dekatnya membaca surat kabar sampai aku pulang bekerja.

“Sruuppppp, alhamdulillah…” ucap kakekku saat menikmati teh hangatnya.

“Buk..!! Jam piro saiki?? Kok Bejo durung balek – balek??” Tanya kakekku dengan suara keras.

“Jam limo!!” Sahut nenek dari kamarnya.

Memang biasanya aku jam 5 sudah sampai di rumah, tapi hari ini aku pulang lambat karena harus menyelesaikan beberapa pekerjaan di kantor. Aku sudah 1 tahun tinggal bersama kakek nenekku, setahun yang lalu aku diterima bekerja di sebuah perusahaan yang satu daerah dengan kediaman kakek dan nenek. Setelah berbagai pertimbangan dengan orang tuaku, akhirnya kuputuskan untuk tinggal menemani kakek dan nenek.

Adzan maghrib berkumandang mengiringi matahari terbenam, terdengar cuitan burung burung yang kembali ke sarangnya.

“Jiii Ajiii!! Ayo balik nak sudah maghrib!!” Riang Teriak ibu memanggil anaknya yang tidak pulang pulang bermain.

Aku menembus alunan merdu adzan maghrib itu dengan deru motor Hondaku yang melaju dayu. Sampai dirumah kakekku sudah bersiap untuk berangkat jamaah di masjid.

“Tas teko jo??” Tanya kakekku sambil memakai sandalnya.

“Nggeh kung, ada pekerjaan yang harus diselesaikan” sambil kujawab dengan wajah lesu sebab lelah dengan pekerjaan.

Aku biasa memanggil kakekku dengan panggilan mbah kung dan mbah uti untuk nenekku. Di daerah jawa panggilan itu biasa dipakai untuk memanggil kakek dan nenek. Mbah, itu sebutan untuk orang yang sudah tua, sedangkan kung/kakung itu artinya laki laki, dan uti/putri itu artinya adalah perempuan.

“Oalah…iyawes aku tak neng masjid sek, jama’ah karo mbah uti ya…”

“nggeh kung” jawabku sambil memandang punggung mbah kung yang sudah sedikit membungkuk.

Selepas maghrib biasanya mbah kung tidak pulang tadarus qur’an di masjid sampai isya’, baru setelah isya’ pulang. Tapi hari ini beliau selepas maghrib langsung kembali ke rumah.

“Jooooo Bejoooo!!!” panggil mbah kung dari teras rumah.

“Nggeh kung!!” Jawabku sambil sedikit berlari ke teras rumah.

“Gawekne kopi jo” ucap mbah kung.

Mendengar perintahnya aku langsung pergi ke dapur dan menyeduh kopi untuk beliau. Setelah kuseduh kopi aku langsung mengantarkannya ke teras rumah, di teras mbah kung sudah tadarrus qur’an dengan memakai kaca mata rabun dekatnya. Kuletakkan kopi yang masih panas itu diatas meja, dan saat aku ingin kembali ke kamar, mbah kung mencegatku

“sek jo, lungguh kene sek”

Mbah kung memang seperti itu beliau tidak banyak berbicara hanya seperlunya saja. Berbeda dengan mbah uti yang selalu mengajakku ngobrol.

“Shadaqallahu al adzim…”

Selesai tadarus qur’an mbah kung langsung meminum kopi yang kubuat. “Sruuupppp alhamdulillah”

“enak a kung??” Tanyaku sambil memulai pembicaraan

“enak alhamdulillah hahaha” jawab mbah kung sambil tertawa kecil.

“Piye gawean mu jo?? Lancar??”

Pertanyaan yang langsung to the point, tanpa ada basa basi dari mbah kung

“Alhamdulillah kung sejauh ini lancar, tapi memang ada kendala” jawabku sambil membakar rokok.

“Oalah…” jawab singkat mbah kung sambil membakar rokok kreteknya juga. “Kenapa jo?? Capek ta?? Hahaha” tanya mbah kung sambil tawa kecilnya yang khas. “Iya kung, pusing aku di tempat kerja, rasanya ingin resign saja dari pekerjaan” jawabku sambil mengeluh.

“Loh…yo jangan toh…masak ada masalah dikit aja sudah mau menyerah?!!” ucap mbah kung dengan nada tegas.

“Kamu tau jo kenapa bahasa jawanya bekerja itu nyambut gawe??” Tanya mbah kung sambil menghembuskan asap kreteknya.

“Mboten kung, memang kenapa kung??”

“Ya gapapa hahaha” ucap mbah kung dengan santainya dan membiarkan aku masih bingung dengan jawaban pertanyaannya.

“Jadi kenapa orang jawa menyebut bekerja itu dengan nyambut gawe, arti dari kata nyambut kamu tau artinya apa?” Tanyanya sambil meminum kopi.

“Minjem kung”

“kalo gawe?”

“Untuk” jawabku dengan nada datar karena masih sedikit kesal dengan candaan mbah kung tadi.

Belum sempat menjawab dari masjid sudah terdengar suara adzan isya’. Seketika mbah kung langsung beranjak untuk siap siap pergi ke masjid, dan berkata padaku “wes direnungi dewe, kiro kiro kenopo hahaha” mbah kung pergi ke masjid meninggalkan tawanya yang masih mengaung di teras rumah.

“Oiyaa mbah uti diajak jama’ah ya jo”

“nggeh” jawabku sambil kesal dengan mbah kung.

Selepas jama’ah isya’ dengan mbah uti aku merenungi pertanyaan mbah kung tadi tanpa berpindah dari sajadah. Apa maksudnya mengapa orang orang jawa menyebut “bekerja” dengan “nyambut gawe”?? Mengapa tidak menyebut dengan “kerjo” saja kan hampir sama dengan bahasa indonesia. Saat masih sibuk memikirkan pertanyaan mbah kung tadi, dibelakangku mbah uti sholat ba’da isya’ dan samar samar ku dengar bacaan iftitah 

“Inna shalati wa nusuki wa mahya ya wa mamaati lillahi rabbil alamin”

Mendengar bacaan iftitah itu aku menemukan jawaban dari pertanyaan mbah kung tadi. Oalahh begini toh maksudnya. Memang sejatinya dalam hidup ini kita tidak mempunyai apa apa. Kita hanya dipinjami raga untuk bekerja, dipinjami pikiran untuk berpikir, dipinjami mata untuk melihat. Dan dipinjami dipinjami yang lainnya. Sejatinya shalat kita ibadah kita hidup dan mati kita itu untuk allah. Maka dari itu orang jawa biasa menyebut bekerja (tidak hanya bekerja untuk mencari uang saja) dengan “nyambut gawe” karena memang kita ini hanya dipinjami, suatu saat pasti akan dikembalikan kepada pemiliknya.

Sekian….

oleh: Husain Akbar.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *