Salam hangat untuk semua: bapak, ibu, anak, laki-laki, perempuan, muda, tua. Semua yang ada. Tidak dapat aku sebutkan satu persatu, tanpa mengurangi rasa penghormatan. Perkenalkan, aku adalah Budi-Man, biasa dipanggil Budi, salah seorang petugas di panggung belakang. Seperti biasa, di penghujung matahari terbenam, kami petugas panggung belakang, akan memberikan reportase terkait kejadian terkini sebagaimana yang terjadi.
Perhari ini, kondisi orang-orang di panggung belakang dapat diterka atau diidentifikasi dengan cukup jelas. Hal ini kami temukan dari orang-orang yang tengah istirahat di panggung belakang setelah beraktivitas di panggung depan. Setidaknya, kami bisa menyimpulkan ini menjadi tiga golongan.
Pertama, mereka yang sebenarnya sama sekali tidak cocok dengan topeng yang mereka kenakan di panggung depan. Golongan ini memiliki tingkat frustasi yang tinggi. Keadaan—tuntutan, paksaan, keharusan, intervensi—membuat mereka, suka tidak suka, harus tetap memasang topeng dan melakoni perannya. Golongan ini merupakan afinitas yang disetir untuk pencapaian tertentu.
Hampir setiap mengambil jam istirahat di panggung belakang. Mereka berbicara mengenai topeng dan perannya yang memuakkan. Dipaksa untuk mendukung, menerima, dan menyetujui hal yang sangat tidak selaras. Tidak jarang mereka memaki, mencaci, dan menghinakan topeng-topengnya di panggung belakang.
Kedua, mereka yang cocok dengan topengnya. Bisa dibilang mereka seolah memakai topeng dengan perasaan yang organik, tanpa dibuat-buat. Bagi mereka, topeng seperti salinan dari wajah mereka. Sehingga seperti tidak ada upaya yang berlebihan untuk menciptakan kepalsuan. Mereka menikmati lakon perannya dengan penuh penghayatan di panggung depan. Menopeng dengan riang gembira.
Sepulang dari panggung depan, tidak jarang mereka membiarkan topengnya berjulat di wajah mereka. Mereka memuja-muja wajah mereka yang bertopeng saat mematut diri di depan cermin. Antara topeng dengan dirinya memiliki frekuensi yang sama, gelombang yang senada, pas di wajah.
Ketiga, mereka yang biasa-biasa saja dengan topengnya. Tidak antusias, tidak pula muak. Motto peran mereka adalah profesional. Mereka tidak memprotes, namun juga tidak pula suka, terhadap topeng yang telah ditentukan dan dipasangkan ke wajah mereka. Saat dipanggung depan, mereka memerani topeng dengan baik. Seperti tugas yang wajib diselesaikan. Tanpa beban, namun juga tidak semerta-merta sukarela, biasa saja.
Di panggung belakang, mereka melepas dan menggantungkan topeng-topengnya. Tanpa mencaci, tanpa memuji. Urusan di panggung depan sepenuhnya tidak terpikirkan saat di panggung belakang. Mereka tidak mencampuri urusan di antara kedua ruang itu—panggung depan dan panggung belakang—sesuai dengan mottonya, di depan topeng dipasang, di belakang topeng ditanggalkan.
Golongan di atas tidak selalu diisi dengan orang-orang yang sama. Pada situasi tertentu, orang pada satu golongan akan bersalin rupa ke golongan yang lain. Entah sebagai anugerah atau kutukan. Mengenai “situasi”, ini memengaruhi terhadap peningkatan dan penurunan produksi topeng. Terkadang muncul produk-produk topeng yang bertujuan mengecohkan peranan topeng yang lain.
Demikian laporan terkini mengenai situasi kondisi panggung belakang. Semoga dapat dipahami secara bersama dan seksama. Saya Budi-Man, petugas panggung belakang, sekian melaporkan.









