Beranda / Esai / Opini / PA (Pertandingan Agama) – SAA (Studi Apa Aja)

PA (Pertandingan Agama) – SAA (Studi Apa Aja)

Studi Agama-agama dulu akrab disebut PA (Pertandingan.. Eh Perbandingan Agama). Kemudian nama itu pada tahun 2016 diubah berdasarkan SK Dirjen Pendis dengan nama Studi Agama-agama. 

“Agama kok dibanding-bandingin.!?” Walau sudah ganti nama, ujaran seperti ini hingga saat inipun masih sering terdengar. Ya begitulah netizen Konoha Gakure dengan jurus cocotnojutsunya wkwk.

Memang sesuai diksinya. Dalam jurusan ini selain mempelajari berbagai agama, Seringkali juga membandingkan agama-agama atau lebih dikenal dengan komparasi. Tanpa dibanding-bandingke bagaimana kita bisa mengetahui perbedaannya? Ya itulah tujuannya.

Mengamini mbah Alm. Ninian Smart dalam karyanya The Religious Experience Of Mankind (1967) menyebutkan, bahwa terdapat tujuh dimensi dalam agama yaitu dimensi Ritual, Mitos, Pengalaman, Sosial atau Institusional, Etis, Doktrinal dan Dimensi material. Setiap agama meliputi aspek-aspek tersebut.

Sebagi contoh, bagaimana cara login suatu agama? Mari kita bandingkan cara login Islam dan Kristen…

Cara login Islam adalah mengucapkan dua kalimat Syahadat. Kalau dalam Kristen cara loginnya kita harus ikut kelas gereja sekitar tiga bulan untuk kemudian bisa dibaptis dan resmi menjadi seorang Kristiani.

Maka dari perbandingan itu menghasilkan:

1. Login agama Islam itu mudah, Kristen lebih syulit.

2. Murtad tanpa sengaja itu tidak mungkin, jauh lebih mungkin adalah muallaf tanpa sengaja hahaha

3. Kristen lebih ketat merekrut domba-domba tersesat

4. Dst.

Itulah cara main sebenarnya dalam jurusan ini. Hal ini pertama kali digagas di Indonesia oleh Prof. Mukti Ali setelah ia menyelesaikan studinya di Canada. Jurusan ini berkembang di Barat sekitar abad 19. 

Namun jauh sebelum itu kajian agama-agama seperti ini sudah dilakukan oleh banyak cendikiawan Islam. Seperti Asy-Syahrastani dengan karangannya berjudul “al-Milal wa an-Nihal”. Kitab ini menghimpun banyak sekali ajaran agama dan aliran yang berkembang pada masa itu.

Tujuannya adalah untuk mengumpulkan dan mencatat hal-hal yang berkaitan dengan agama, seperti sejarah kelahiran, perkembangan, ajaran, penyebaran, siapa pendirinya dan lain-lain.

Ilmu ini juga merupakan sebuah langkah terciptanya toleransi antar umat beragama. Toleransi akan tercipta apabila seseorang memahami agama yang lain. Ya bagaimana bisa memahami tanpa mengidentifikasi atau mempelajarinya.

Sehingga dalam prosesnya setiap mahasiswa dituntut untuk objektif (apa adanya) serta menghayati (tulus) dalam mempelajari agama lain. Mahasiswa harus mensakralkan apa yang umat lain sakralkan. Itulah etikanya.

Bukannya mereka mengimani sesembahan orang lain loh ya. Itu adalah bentuk menghormati perasaan dan lain-lain.

Janggalkah?

Sy tutup dengan sebuah ayat saja deh biar berkah 😅

وَلَا تَسُبُّواْ ٱلَّذِينَ يَدۡعُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِ فَيَسُبُّواْ ٱللَّهَ عَدۡوَۢا بِغَيۡرِ عِلۡمٖۗ كَذَٰلِكَ زَيَّنَّا لِكُلِّ أُمَّةٍ عَمَلَهُمۡ ثُمَّ إِلَىٰ رَبِّهِم مَّرۡجِعُهُمۡ فَيُنَبِّئُهُم بِمَا كَانُواْ يَعۡمَلُونَ

[Surat Al-An’am: 108]

Dan janganlah kamu memaki sesembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa dasar pengetahuan. Demikianlah, Kami jadikan setiap umat menganggap baik pekerjaan mereka. Kemudian kepada Tuhan, tempat kembali mereka, lalu Dia akan memberitahukan kepada mereka apa yang telah mereka kerjakan. (Yuniar Avicenna) 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *