Beranda / Esai / Opini / Rekonstruksi Pendidikan Sebagai Jalan Transformasi Sosial

Rekonstruksi Pendidikan Sebagai Jalan Transformasi Sosial

pendidikan Mahasiswa UIN Sunan Kalijaga saat menggelar aksi protes kepada pihak Rektorat atas biaya kuliah yang semakin melejit tinggi (istimewa)

Perjalanan revolusi Industri dalam gengaman sistem ekonomi kapitalisme menjadi momok yang terus mengerogoti kesempurnaan manusia sebagai makhluk sosial. Ketakutan akan terdegradasinya tatanan sosial yang diakibatkan perkembangan industri bukan lagi hal yang bersifat baru.

Pada 1930, George S. Counts dan Harold O. Rugg berpandangan bahwa perlu adanya bangunan baru tatanan masyarakat dalam rangka mewujudkan keadilan. Pandangan ini kemudian menjadi aliran rekonstruksionisme dalam dunia filsafat.

Rekonstruksi yang berarti menyusun kembali dalam aliran filsafat pendidikan merupakan suatu bentuk usaha merombak tatanan lama dan membangun tatanan kebudayaan baru. Kemunculan aliran ini merupakan respon terhadap kondisi sosial yang dalam perkembangannya terus berorientasi untuk memajukan teknologi dan industri yang mengarahkan manusia hanya pada kedua hal tersebut. Situasi inilah yang kemudian turut menjadi akar masalah dalam sistem pendidikan.

Pendidikan sebagai sarana yang sangat penting dalam mewujudkan generasi penerus yang transformatif dalam kehidupan mendatang menjadi terkontaminasi atas fokus orientasi yang hanya diarahkan kepada teknologi dan industri.

Alih-alih sekolah dan perguruan tinggi menjadi sarana memperoleh pengetahuan pada saat ini, keduanya justru menjadi sebuah perusahaan industri yang mencetak produk yang siap dijual ke pasar.

Selayaknya logika pasar, produk yang dikeluarkan harus dipoles sedemikian rupa seperti harus bersertifikat halal, mendapatkan izin BPOM, dan lainnya untuk menarik konsumen, maka sekolah dan perguruan tinggi juga memoles produk-produknya (siswa atau mahasiswa) melalui akreditasi dan sertifikasi dari berbagai lembaga agar laku di pasaran industri.

Logika pasar inilah yang menjadi akar masalah mahalnya biaya pendidikan. Pendidikan yang seharusnya menjadi tanggung jawab negara sebagaimana disebutkan dalam cita-cita kemerdekaan, pada saat ini menjadi sebuah komoditas yang harus dibeli dengan rupiah.

Oleh karena itu, yang miskin tidak akan dapat mengakses pendidikan sehingga ia tidak bisa mendapatkan pekerjaan yang layak, dan yang kaya akan mendapatkan akses pendidikan serta menikmati pekerjaan yang lebih layak. Jika hal ini dibiarkan, maka kesenjangan sosial akan terus berkembang tanpa ada akhir.

Melihat fenomena ini, keresahan Rugg pada tahun 1930 terhadap kondisi sosial dan budaya di Amerika Serikat menjadi sebuah kenyataan yang sangat tampak jelas di depan mata. Bahkan pada saat itu, Rugg menegaskan bahwa orientasi yang hanya difokuskan pada kemajuan teknologi akan berpotensi mendegradasi kemanusiaan (Rugg, 1971: 76).

Kemajuan teknologi ibarat dua sisi mata uang yang satu sisi dapat membantu manusia, tetapi di sisi lain menimbulkan kesenjangan dan kemerosotan moral yang disebabkan oleh perkembangan industri, pasar bebas, serta kapitalisme yang terus menggerogoti manusia (Nelson, 1975: 64).

Pendidikan dan Transformasi Sosial

Rugg (1971: 71) menegaskan bahwa seharusnya pendidikan hendaknya menjadi sebuah sarana melakukan rekonstruksi sosial dibandingkan melakukan revolusi industri. Pendidikan seyogyanya menjadi sarana dalam membangun kesadaran kritis peserta didik dalam rangka memahami situasi krisis yang dialami dalam kehidupan bermasyarakat.

Gagasan rekonstruksionisme menjadi salah satu alternatif yang dapat menjawab tantangan degradasi moral kemanusiaan pada saat ini. Hal tersebut karena wacana rekonstruksionisme yang secara konsisten menunjukkan kepeduliannya pada situasi kehidupan yang digempur kemajuan teknologi dan industri.

Dan, yang menjadi sangat menarik dari rekonstruksionisme ini menegaskan bahwa jalan satu-satunya keluar dari ancaman kapitalisme yang berorientasi pada kemajuan teknologi dan industri adalah dengan mengubah praktik pendidikan ke dalam konstruksi baru.

Daftar Bacaan:

Azra, Azyumardi. (2000).  Pendidikan Islam, Tradisi dan Modernisasi Menuju Milenium Baru. Jakarta: Logos.

Nelson, M. R. (1975). Building A Science Of Society: The Social Studies And Harold O. Rugg. Stanford University.

Rahmayana, Jeeny, “Filsafat Rekontruksionisme Dalam Pendidikan Islam Studi Atas Pemikiran Muhammad Iqbal”, Jurnnal Tamaddun Ummmah Vol 1 No 1, 1 Oktober 2015

Rugg, H. (1971). Social Reconstruction Through Education.

Sumarna, Cecep. (2005). Rekontruksi Ilmu, Bandung: Benang Merah Press

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *