Beranda / Esai / Opini / “UIN Suka Untuk Bangsa, UIN Suka Mendunia, UIN Suka Berjiwa Ikhlas”—Sebuah Pesan dari Lubuk Hati

“UIN Suka Untuk Bangsa, UIN Suka Mendunia, UIN Suka Berjiwa Ikhlas”—Sebuah Pesan dari Lubuk Hati

UIN Sunan Kalijag

Belum lama ini, pagelaran dari Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan (PBAK) UIN Sunan Kalijaga mengalami insiden yang luar biasa. Maksudnya, sekelas acara PBAK, dianggap menjadi ancaman yang nyata bagi rektorat. Padahal, acara tersebut benar-benar untuk mengenalkan budaya kampus UIN Sunan Kalijaga yang tentunya murah senyum dan murah UKT.

Pejabat kampus pun kerap mengaku bahwa UIN Sunan Kalijaga adalah kampus rakyat, kampus yang mencetak kader generasi penerus bangsa berjiwa Pancasila dan mau melakukan transformasi ke arah yang lebih baik. Kampus yang dari dulu menjadi idaman rakyat-rakyat kecil dari berbagai daerah untuk menimba ilmu yang—diharapkan setelah lulus bisa menjamin prospek masa depan yang cerah.

Atas dasar itu semua, maka UIN Sunan Kalijaga mempunyai slogan yang cukup menarik, yakni “UIN Suka untuk bangsa, UIN Suka Mendunia”. Slogan tersebut jika ditebak, dicetuskan oleh orang-orang ikhlas yang ingin membawa UIN Sunan Kalijaga ke lingkup internasional.

Orang itu ingin, agar perjuangan kampus tersebut tidak hanya di Jogja, tidak hanya di Jawa atau Indonesia, namun agar mahasiswa-mahasiswa UIN Sunan Kalijaga, baik yang masih kuliah atau sudah lulus, mau berjuang untuk kebaikan dunia. Mau beramal soleh dengan ikhlas agar dunia menjadi lebih baik.

Sampai di situ, menjadi bukti nyata bahwa UIN Sunan Kalijaga adalah kampus terbaik yang diisi oleh orang-orang yang berjiwa ikhlas, termasuk para pejabat yang duduk di tataran prodi hingga rektorat.

Namun karena mereka sangat ikhlas-able, sampai-sampai semua orang termasuk mahasiswa barunya, dianggap sebagai sosok yang ikhlas. Oleh sebab itu, pemberian Uang Kuliah Tunggal (UKT) bagi mahasiswa baru banyak yang menerima dengan angka yang cukup tinggi. Saking husnuzon-nya, pihak rektorat yakin bahwa orang tua mahasiswa ikhlas untuk membayar UKT yang jumlahnya cukup tinggi.

Pihak rektorat terlalu berbaik sangka bahwa jerih payah orang tua mahasiswa yang sedianya bisa untuk beli makan, membayar utang, membeli barang-barang penyambung hidup, semuanya diambil dan dibayarkan demi menjadi salah satu bagian dari keluarga UIN Sunan Kalijaga yang berjiwa ikhlas.

Atau bahkan, dengan menjadi bagian dari UIN adalah sebuah privilege yang begitu sakral dan terhormat, walau dibayar dengan kucuran darah dan keringat yang keluar dari manusia bertulang-belulang rapuh dan renta.

UIN Sunan Kalijaga memang menjadi model kampus yang menerapkan moderasi beragama. Hampir setiap mata kuliah pekan keagamaan, sudah begitu karib dengan diksi moderasi. Bahkan, saking moderatnya mereka, sampai-sampai moderasi hanya di taraf wacana saja. Apa mereka lupa, bahwa moderasi beragama juga menyangkut hajat ekonomi pemeluk agama.

Mungkin harus dilihat oleh pihak-pihak itu, bahwa kebanyakan aksi terorisme karena ekonomi yang mencekik dan kemiskinan. Khawatirnya, karena UKT mahal sehingga tidak bisa membayar, malah mendorong mahasiswa untuk menjadi teroris. Kan nggak lucu, kalau alumni UIN Sunan Kalijaga si paling moderasi agama malah menjadi teroris!!!

Dan terakhir, UIN Sunan Kalijaga adalah kampus yang Pancasilais. Harusnya mereka tahu, bahwa ada sila kedua yang berbunyi “Kemanusiaan yang Adil dan Beradab”. Atau kalau berbaik sangka, bahwa biaya pendidikan yang mahal, sarana dan fasilitas yang kurang memadahi, anti kritik, tidak terbuka, tidak mau transparan, mengancam mahasiswa yang menyuarakan aspirasi, adalah implementasi nyata dari sikap-sikap yang benar-benar ADIL DAN BARADAB.

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *