Beranda / Seni dan Sastra / Romansa Dalam Jaringan ~ Cerpen Bintang Ramdhana Andyanto

Romansa Dalam Jaringan ~ Cerpen Bintang Ramdhana Andyanto

kenzo

Bagian I

“Mending lu cari pacar, Ken. Serius, gue kasian ngeliat lu gabut mulu kayak begini.”

Kenzo adalah seorang pemuda beruntung dan nahas di saat bersamaan. Ia beruntung karena memiliki dua orang sahabat yang selalu berada di sisinya, tak peduli apa pun yang terjadi. Sahabatnya yang pertama bernama Edgar, seorang pemuda bertubuh jangkung yang sangat gemar menonton laga sepak bola. Sementara yang satunya lagi bernama Evan, seorang pemuda berwajah oriental yang sangat doyan menonton laga ranjang di film dewasa. Kenzo sendiri dapat dikatakan merupakan kombinasi dari keduanya.

Ia begitu mujur karena memiliki kawan-kawan setia yang akan selalu menemaninya, Bahkan, saking eratnya siklus pertemanan mereka, banyak yang berkata bahwa mereka bagaikan saudara yang berasal dari rahim berbeda. Dan selayaknya persahabatan anak laki-laki, keisengan dan kejahilan pasti turut andil dalam kisah keseharian mereka.

Pernah suatu ketika, Kenzo mengirimkan sebuah pesan WhatsApp kepada Jasmine, pacar Edgar, berisi percakapan palsu antara sang sahabat dengan perempuan lain. Aksinya itu pun berakhir dengan retaknya hubungan romansa antara Edgar dan Jasmine. Hal yang kurang lebih sama juga pernah ia praktikkan kepada Juliet, pujaan hati Evan, di mana Kenzo mengatakan bahwa pemuda tersebut sejatinya merupakan seorang gay.

Tindakannya itu berujung pada menjauhnya Juliet dari genggaman tangan Evan. Mulanya, kedua sahabatnya murka bukan main kepada Kenzo. Akan tetapi, selayaknya saudara, pada akhirnya kata “damai” pun kembali tercipta.

Di balik kejahilannya yang terkadang melampaui batas, tak banyak orang yang tahu bahwa sejatinya Kenzo mengidap satu penyakit yang diderita oleh mayoritas remaja tanggung pada umumnya: jomblo. Padahal, ia sama sekali tak memiliki wajah yang buruk rupa dan (terkadang) berhati baik. Singkatnya, ia masih layak digolongkan ke dalam tipe calon menantu idaman yang didambakan oleh kebanyakan orang tua. Hanya Tuhan yang tahu penyebab dari kelajangannya tersebut.

Hingga pada suatu ketika, tatkala Kenzo tengah asyik berselancar di Instagram sehabis melakukan ‘ritual adat’-nya apabila rumah sedang kosong, ia berjumpa dengan seorang gadis bernama Bianca Mutiara.

Perjumpaan itu sendiri tidak bisa diartikan secara harfiah; mereka hanya saling berkenalan melalui media dalam jaringan. Perkenalan ini dimulai ketika Bianca mulai mengikuti akun Instagram Kenzo. Entah dari mana gadis itu bisa mengetahui akunnya. Namun, percayalah, itu sama sekali tak menjadi persoalan. Begitu melihat wajah manis ala blasteran si gadis, Kenzo pun tanpa ragu langsung mengikuti balik akun gadis tersebut.

Bagian II

“Wajahnya mirip dengan aktris di film biru yang gue tonton tadi,” ucap Kenzo ketika pertama kali melihat garis muka Bianca yang seketika mengombang-ambingkan aliran sungai di dalam tubuhnya.

Dan seperti kebanyakan kisah romansa klasik, perbincangan pun dimulai dengan basa-basi sang pria yang ditanggapi secara dingin oleh sang wanita. Kenzo mengirimkan beberapa pesan berisi perkenalan singkat. Hal yang sama pun dilakukan oleh Bianca.

“Wah, ternyata kita seumuran, ya. By the way, lu tinggal di mana?” Kenzo mulai berusaha mengeluarkan jurus mautnya.

“Gue tinggal di Jakarta. Lu?” tanya Bianca penasaran.

Kenzo hanya tersenyum kecil, tetapi hatinya tertawa lebar. Ia tak menyangka bahwa gadis cantik yang ia temui di dunia maya tersebut ternyata berada di kota yang sama dengan dirinya. Ingin sekali ia mengajaknya berkenalan dan berjumpa secara langsung, tetapi ia sadar, ia tak boleh terburu-buru. Ia harus menunggu dan bersabar. Lagipula, bukankah orang sabar disayang Tuhan?

“Pendekatan terbaik adalah pendekatan yang dilakukan secara cermat selagi tetap menjaga jarak,” pikirnya.

Keesokan harinya, Kenzo menceritakan semua hal mengenai Bianca kepada dua sahabatnya. Ia sungguh tak sabar mengetahui reaksi spontan dari mereka.

“Eh, tau enggak, gue kemarin baru aja di-follow oleh cewek cakep. Namanya Bianca, kebetulan dia tinggal di sini juga.” Kenzo membuka percakapan, lantas menunjukkan potret sang gadis. Kedua sahabatnya pun menyambutnya dengan sebersit senyuman simpul.

“Iya, cantik, sih. Tapi, apa lu enggak ngeri, Ken? ‘Kan bisa aja dia cuma akun palsu,” ujar Edgar yang berusaha memperingati sahabatnya.

“Iya, bener, tuh. Atau kalau enggak, coba aja lu ajak ketemuan, Ken, supaya lu beneran tahu kalau dia itu asli atau bukan,” timpal Evan selagi tak memalingkan wajah dari ponsel genggamnya.

Kenzo seketika terdiam. Separuh bagian dalam hatinya meyakini bahwa bertindak terlalu tergesa-gesa akan selalu berdampak buruk, terlebih dalam urusan yang menyangkut asmara. Akan tetapi, bagian lain dalam hatinya sesungguhnya setuju dengan saran dari kedua sahabatnya tersebut.

“Woy, kok lu ngelamun, sih? Jangan-jangan lu ga berani, ya, ngajak dia ketemuan langsung? Cupu lu, Bro.” goda Edgar.

“Takut? Enggak, lah. Gue cuma lagi mikirin gimana kata-kata yang tepat supaya dia mau gue ajak ketemuan.”

            “Ken, inget pesan gue ya: segala sesuatu tuh harus disampaikan secara jujur. Enggak usah bertele-tele, apalagi banyak basa-basi. Cewek mah enggak seneng cowok yang model begitu. Berdasarkan pengalaman gue sebagai petualang asmara, cewek tuh akan sangat menghargai kejujuran dari cowoknya, percaya, deh, sama gue.”

            “Tumben lu bijak. By the way, tuh quotes dapet dari film bokep yang mana?”

            “Anjing.”

Mereka bertiga pun tertawa terbahak-bahak.

Bagian III

Malam harinya, setelah merasa lelah sehabis menyicil tugas kuliah yang harus dikumpulkan beberapa hari lagi, Kenzo kembali membuka akun Instagram-nya. Tanpa ia sadari, sebuah direct message telah mampir di kotak masuknya. Dan betapa girangnya ia ketika mengetahui bahwa pesan tersebut berasal dari Bianca, gadis yang selama beberapa hari ini telah mengambil alih pikirannya.

“Hai. Lagi ngapain?” tulis sang gadis di dalam pesan yang telah dikirimkan sejak dua jam lalu tersebut.

Dengan kecepatan laksana kilat di kala hujan, Kenzo pun membuka dan membalas pesan tersebut.

“Hai juga, maaf baru bales, ya. Tadi gue lagi ngerjain tugas, tapi sekarang udah mau kelar.” Ketik Kenzo dengan jemari yang bergetar kegirangan.

Tanpa diduga, pesan tersebut langsung berbalas. Ribuan pertanyaan pun seketika menyeruak ke benak Kenzo: apakah Bianca memiliki perasaan ke gue? Ataukah saat ini ia cuma gabut dan bingung harus ngapain? Dan pertanyaan-pertanyaan lain yang jika dituliskan seluruhnya bisa menjadi satu cerpen sendiri.

Tatkala ia masih terbuai dalam lamunan, pesan dari sang gadis pun kembali bertandang ke kotak masuknya.

“Oh, gitu. Bagus, deh, kalau tugas lu udah mau kelar. By the way, gue mau cerita, nih. Lu mau dengerin, enggak?”

Dan Kenzo pun secara sukarela menjadi pendengar setia dari sang gadis.

Bagian IV

“Eh, guys, tau enggak? Semalem gue habis chat-an lagi sama Bianca.”

Seperti malam-malam Minggu yang lalu, Kenzo dan para sahabatnya selalu menghabiskan waktu dan nongkrong di kafe favoritnya yang bernama “Foto Kopi”. Tiga gelas kopi hitam mengisi meja kecil di hadapan mereka.

Maklum saja, sebagai pemuda dengan kantong pas-pasan, satu-satunya menu yang dapat mereka pesan di kafe tersebut hanyalah minuman termurah yang kemudian turut diganjar pula dengan Wi-Fi dan live music gratis. Lumayan, bisa buat pamer di Instastory.

Lagipula, mereka bertiga percaya bahwa yang ternikmat dari kumpul-kumpul adalah topik perbincangannya, bukan apa hidangannya.

“Wah, serius? Bagus, deh. Ngobrolin apa aja lu sama dia?” tanya Edgar antusias.

“Dia cerita kalau dia lagi suka sama seseorang, tapi dia malu untuk ngajak orang itu ketemuan dan ngungkapinnya secara langsung. Jadi, akhirnya dia sama orang itu cuma bisa saling chat-an. Sedih, enggak, sih? Kasihan, ya, dia.”

“Woy, Ken, lu tolol atau goblok, sih? Udah jelas-jelas itu tandanya dia ngasih kode ke lu, anjir.”

“Yoi, Ken, lagian lu kok enggak paham banget, sih, sama kode-kode cewek? Ini, nih, dampaknya kalau enggak pernah pacaran.” Timpal Evan sekaligus meledek.

Kenzo seketika terdiam merenung. “Ah, masa, sih? Gue enggak mau terlalu pede dan berharap banyak, deh. Takutnya nanti gue malah dikecewakan ekspektasi gue sendiri.”

“Gaya lu ekspektasi-ekspektasi. Emak lu noh di rumah lagi makan nasi kemarin. Udah, daripada lu kebanyakan insecure kayak anak-anak di twitter, mendingan lu berbuat sesuatu yang laki banget, yaitu ngajak tuh cewek ketemuan langsung.”

            “Yakin, Van? Emangnya dia mau ketemu sama gue?”

            “Pasti mau, Bro. Percaya sama gue. Lagian, feeling gue berkata bahwa nih cewek akan jadi pacar pertama lu.”

Kenzo pun tak kuasa menahan senyum di wajahnya.

Bagian V

Kenzo berangkat dengan setelan terbaik. Kemeja flanel kotak-kotak berwarna hitam-putih dan jogger pants berwarna abu-abu tua telah ia siapkan sedari siang. Sepatu Jordan yang ia miliki satu-satunya pun telah ia bersihkan hingga jernih bersinar seumpama wajah sang gadis.

Di kafe Foto Kopi, Kenzo menunggu dengan harap-harap cemas. Malam tadi ia telah membuat janji dengan Bianca bahwa mereka akan bertemu untuk pertama kalinya. Bianca pun menyetujui dan berkata bahwa ia juga tak sabar untuk bisa bertemu dengan Kenzo.

Selagi menunggu, Kenzo memerhatikan pemandangan di sekeliling. Semua meja diisi oleh pasangan muda-mudi yang berbincang mesra, seketika membuatnya iri dan berharap bisa melakukan hal yang sama.

“Ah, santai aja. Ngapain coba harus iri? Bentar lagi gebetan gue juga dateng,” ujarnya berusaha menguatkan hati.

Tanpa ia sadar, ponsel genggamnya telah bergetar. Sebuah pesan hinggap dari sang gadis.

“Hai. Bentar lagi gue sampe, nih. Tapi gue bawa temen. Enggak apa-apa, ya? Temen deket, kok. Janji dia enggak bakal jadi nyamuk.”

“Anjing. Ngapain coba dia bawa temen. Tapi, udah, lah, enggak masalah. Yang penting bisa ketemuan dulu,” gerutu Kenzo setelah membaca pesan tersebut.

Lima menit sudah berlalu. Bianca masih belum juga menampakkan batang hidungnya. Kenzo pun mulai jenuh, lantas hanya bisa menanggulanginya dengan scrolling timeline Instagram tanpa henti.

Sampai akhirnya, ia rasakan sebuah tangan yang menepuk lembut bahunya. Detik itu juga, jiwanya bergetar kencang. Waktu seperti tak lagi berlaku di semestanya. Berjuta angan seketika membayang di benaknya, gembira menyambut masa depan yang (sepertinya) akan berjalan cerah. Dengan tatapan dingin yang telah ia latih sebelumnya, ia pun bersiap untuk menoleh dan memasang senyuman terbaik.

“Hai, Kenzo. Maaf telat, ya,” ucap Edgar dan Evan seraya menahan tawa.

“Bangsat!” ucap Kenzo yang tak mampu menahan murkanya.

Malam pun dilewati dengan Kenzo yang tak henti-hentinya mengumpat, sementara dua sahabatnya tertawa puas mengingat mereka telah berhasil membalas kejahilan Kenzo.

Ilustrasi: google

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *