Beranda / Esai / Opini / Mengenal Permakultur di Bumi Langit Imogiri

Mengenal Permakultur di Bumi Langit Imogiri

Imogiri, Hari Sabtu (08/06/2024) Tim Bumi Langit Institute mengadakan agenda kegiatan bulan Juni bertajuk “Melihat dari dalam : observasi dan interaksi dalam Bumi Langit“. Salah satu agendanya telah terlaksana pada hari Sabtu, 08 Juni 2024 yaitu melihat sudut-sudut Bumi Langit dalam sesi Tur Pengantar Permakultur. Kegiatan ini dibuka dari pukul 15.00 – 17.00 WIB.

Beberapa sesi dalam kegiatan ini tidak dipungut biaya dan beberapa memang ada htmnya. Sementara itu, Tur Pengantar Permakultur sendiri tidak dipungut biaya alias gratis dan merupakan agenda pertama di bulan Juni. Kemudian dilanjutkan sesi Sore Bersama Bapak yang dilaksanakan hari Minggu (09/06/2024). Pada tanggal 22 Juni 2024 dilanjutkan sesi Alur Alir Air. Adapapun jadwal lainnya dapat diakses melalui instagram @bumilangit.institute.

Pada sesi Tur Pengantar Permakultur ini, peserta diimbau untuk konfirmasi kehadiran terlebih dahulu dengan opsi pukul 15.00 WIB, 15.30 WIB, 16.00 WIB, dan 16.30 WIB. Sementara itu, kelompok kami yaitu tim pukul 15.00 WIB beranggotakan 6 orang dengan di pandu langsung oleh Mas Krisna Putra Waworuntu anak dari pemilik Bumi Langit.

Tur dimulai dari Warung Bumi Langit menuju ke bawah, kami langsung diperlihatkan dengan dua Pohon Munggur (Trembesi) yang menjulang dan batangnya amat besar. Mas Krisna mengajukan pertanyaan berapakah usia pohon tersebut. Kebanyakan peserta menjawab 50 tahun ke atas. Namun, Mas Krisna mengatakan usia pohon tersebut adalah 18 tahun dan yang menanam adalah beliau sendiri. Selain pohonnya yang rindang, buah dari pohon ini bisa dijadikan bahan olahan kue.

Kemudian tur dilanjutkan Mas Krisna menjelaskan bahwa dalam Permakultur hal yang paling penting adalah air, karena semua makhluk hidup tanpa terkecuali pasti membutuhkan air. Maka dari itu, beliau menujukkan berupa hutan yang telah ia bentuk dengan lanskap terasiring. Hal tersebut dilakukan agar aliran air tetap berjalan saat hujan tiba. Selain itu, mereka juga membuat lubang untuk menampung air hujan tersebut. Disekelilingnya juga ditanami berbagai toga seperti kunyit, lengkuas, jahe, dll.

Sepanjang jalan saat kami menyusuri hutan, hawa dari setiap sudutnya bisa berubah. Hal tersebut dikarenakan karena kelembaban udara yang berbeda. Dari hutan kami diajak menuju kebun ibu. Kebun yang memang sengaja dibuat berbeda halnya dengan hutan sebelumnya, disana mereka buat untuk menyesuaikan ruang alamnya.

Di kebun ibu kami diperlihatkan bagaimana sang pemilik benar-benar memperhatikan betul tiap ekosistem disana. Seperti contoh sekecil batu dipandang dapat membantu filterisasi air. Mereka memisahkan aliran air khusus untuk mandi yang kemudian air tersebut bisa digunakan lagi untuk mengaliri kolam lele. Kolam tersebut juga berfungsi untuk meredam kayu-kayu yang akan digunakan sebagai bahan baku pengrajin.

Dari kebun ibu, kami diajak ke tempat pembuatan pupuk salah satunya yakni arang. Kayu-kayu atau ranting yang tidak terpakai di bakar di suatu lubang khusus yang kemudian menjadi arang, lalu diberikan untuk memupuk tanaman.

Dalam hal ini, Mas Krisna berpesan permakultur dapat dimulai dari membuat kebun masing-masing. Mulai dari memperhatikan aliran air, lalu perawatan tanah sehingga dapat berbuah. Dari sana berkah akan datang karena semua makhluk menerima semua kebahagiaan.

Hari menujukkan pukul 17.15 WIB, tur berakhir sampai di belakang Warung Bumi Langit, yaitu tempat awal kami berangkat tur. Dari situ teman-teman peserta mengucapkan terima kasih banyak kepada tim Bumi Langit Institute terutama mas Krisna yang telah memandu tur sore ini. Mas Krisna juga senang hati menyambut para peserta dan berpesan bahwa di Bumi Langit ini agendanya tidak hanya berbayar saja tapi kegiatan sosial juga ada, disana membuka perpustakaan yang dapat diakses orang umum dan membuka kesempatan collab dengan berbagai komunitas.

Tag:

Satu Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *