Beranda / Esai / Opini / Adat Jawa: Megengan

Adat Jawa: Megengan

Megengan

Jawa merupakan sebuah pulau yang didiami oleh beberapa suku. Dominasi dengan angka 40,20 % atau hampir setengah dari populasi yang ada di Nusantara ini memiliki berbagai macam keanekaragaman budaya dengan berbagai ciri khas antara lain pertunjukan wayang kulit, alat musik gamelan, dan senjata keris. Dalam dinamikanya, Suku Jawa memiliki bahasa keseharian dan aksaranya sendiri yang lalu membedakan mereka dari suku lainnya.

Di sisi lain, suku Jawa terkenal dengan kelekatannya terhadap adat istiadat leluhur. Misalnya tradisi megenganYakni suatu adat yang dilakukan oleh suku Jawa khususnya yang berada di Jawa Timur dalam memperingati milad, waktu-waktu yang dianggap sakral, dan hari-hari besar umat Islam.

Megengan sendiri dipahami sebagai bentuk ejawantah rasa syukur terhadap anugerah yang diberikan Tuhan. Secara ritualnya, megengan dipimpin oleh pemuka agama (modin), dengan dihadiri oleh masyarakat desa tersebut.

Selain mewujud rasa syukur, megengan dilakukan dalam upaya mengharapkan keselamatan misal sedang menjalankan suatu kegiatan. Hal tersebut sangat ketara dalam perayaan megengan menjelang datangnya bulan suci Ramadhan. Di acara itu, masyarakat memahaminya sebagai proses sesuci sehingga benar-benar memiliki jiwa yang bersih dalam menyambut bulan Ramadhan.

Biasanya dilangsungkan di akhir bulan sya’ban atau malam sebelum bulan Ramadhan. Orang Jawa menyebut Sya’ban dengan istilah ‘Ruwahsehingga tak jarang mereka menyebut tradisi itu dengan ungkapan ‘Ruwahan’. Dalam Buku ‘Bauwarna Adat Tata Cara Jawa’ karya Drs R Harmanto Bratasiswara (2000), disebutkan tradisi Ruwahan di Bulan Sya’ban, merupakan upacara penghormatan kepada para arwah leluhur atau keluarga yang sudah berpulang. Kegiatan ini diisi dengan doa bersama kepada Tuhan Yang Maha Esa untuk memintakan ampunan dosa bagi para leluhur.

Sebutan kata ruwah juga memiliki kepanjangan yaitu Meruhi Arwah atau memaknai keberadaan para arwah. Dalam bulan ini suku Jawa akan menziarahi makam leluhur atau nyekar dan bisa disebut juga dengan nyadran.

Dalam kacamata antropologi, tradisi seperti megengan ini tidak bisa lepas dari kultur masyarakat Jawa yang sebelum Islam datang sangat kental dengan budaya Hindu-Budha.

Walisongo dalam mendakwahkan Islam di Jawa, lebih menggunakan pendekatan kebudayaan. Mereka banyak membuat tradisi baru dengan mengambil tradisi masyarakat yang ada kemudian dimodifikasi sehingga tidak lagi bertentangan dengan Islam.

Dengan begitu, masyarakat merasa tidak asing terhadap apa yang Walisongo bawa karena tradisi mereka tetap masih dipakai. Di saat yang sama, mereka mulai mengenal Islam secara pelan-pelan. Oleh sebab itu, menjamurnya kelokalan Islam di Jawa ini, adalah buih-buih dakwah Walisongo yang khas dan bijak.

Ilustrasi: googe

 

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *