Beranda / Resensi / Feminisme dalam Harakah Nyai Pesantren Madura

Feminisme dalam Harakah Nyai Pesantren Madura

Feminisme sejatinya banyak macamnya. Jika ditambah kata Islam dan menjadi ‘feminisme Islam’, maka secara luas bisa diartikan sebagai upaya untuk meninggalkan kebekuan ruang dan waktu, dalam mencari pemberdayaan dan pengembangan diri perempuan yang mengacu pada nilai-nilai dan norma-norma agama Islam.

Pemikiran saya, bahwa feminisme Islam merupakan usaha untuk menafsir ulang teks-teks agama, sehingga tidak ada fiqh yang berakibat ketimpangan sosial antara laki-laki dengan perempuan. Feminisme Islam berangkat dari sebuah kesadaran bahwa Al-Quran sebagai ajaran pokok umat Islam, mengafirmasi adanya kesetaraan laki-laki dan perempuan. Menurut Margot Badran—akademisi Barat yang menggeluti feminisme Muslim—mengatakan bahwa gerakan feminisme dalam Islam bukanlah gerakan yang tertular dari feminisme Barat, melainkan dari ajaran Islam itu sendiri.

Nyai pesantren Madura, yang dalam hal ini merupakan representasi ‘ulama perempuan Madura’, sedikit banyak juga telah memiliki pengaruh yang kuat dalam masyarakatnya. Bahkan, ada pula nyai pesantren yang, bisa dikatakan memiliki porsi yang lebih daripada kyai. Pengaruhnya meliputi ruang politik, kepemimpinan agama, keilmuan, dan pemberdayaan ekonomi masyarakat.

Di Kabupaten Sampang misalnya, sosok Nyai Syifak benar-benar diperhitungkan. Selain menjadi pengasuh pondok pesantren, beliau juga menjadi aktivis dakwah sekaligus motor penggerak kesadaran beragama. Secara keilmuan, Nyai Syifak juga ahli dalam ilmu fiqh dan penguasaannya terhadap kitap-kitap klasik. Keberaniannya dalam menyampaikan pendapat dengan tegas dan berbobot kepada masyarakat luas, menjadikannya sebagai sosok panutan dan memiliki banyak jamaah dari perempuan maupun laki-laki.

Atau di tengah-tengah Kabupaten Sumenep, berdiri megah dan luas Pondok Pesantren Aqidah Usymuni. Pesantren tersebut dipimpin langsung oleh Nyai Aqidah sebagai pemimpin pusat. Selain itu, beliau juga merintis organisasi keagamaan, kelompok pengajian keliling, dan juga pemberdayaan ekonomi syariah pada masyarakat sekitar pesantren.

Nyai Syifak juga mendirikan badan ekonomi mandiri pesantren seperti mengelola usaha Batik Madura, minyak wangi, dan lain-lain. Pesantrennya pun memilki jenjang pendidikan formal dari tingkat dasar sampai perguruan tinggi. Tidak dibeda-bedakan antara santri laki-laki dan perempuan. Semuanya setara. Maka tak heran, jika pesantrennya mendapat julukan ‘pesantren gender’, karena memiliki visi dan misi menumbuh kembangkan pemberdayaan dan sensitif gender di lingkungan pesantren.

Selain kedua nyai pesantren di atas, masih banyak nyai-nyai pesantren Madura lain yang juga memiliki porsi tugas yang hampir sama. Kebanyakan, mereka secara langsung mengambil alih peran dari kyai. Semisal, ketika seorang kyai Madura terjun ke politik, maka tugas keulamaannya mulai terbengkalai. Atau, ketika seorang nyai pesantren ditinggal mati suaminya cum kyai, maka secara langsung akan merasa terpanggil untuk melanjutkan perjuangan dakwahnya.

Menjadi seorang feminis Muslim Indonesia, memiliki tantangan yang cukup berat. Kultur masyarakat Muslim negeri ini, masih kental akan budaya patriarki. Apalagi dalam ranah agama. Secara mendasar, mereka mendapat ‘perlawanan’ dari orang-orang Muslim yang menganut patriarki agama. Maksudnya, kebanyakan orang Muslim memandang bahwa otoritas dan yang berhak memegang tampuk kepemimpinan agama hanyalah laki-laki. Dan hal itu telah menjadi dogma yang mendasar.

Seorang Muslim yang mengkoar-koarkan feminisme, lebih dulu akan di stigma ‘antek’-nya Barat, dan parahnya lagi, akan dicap liberal dan sesat.

Saya kira, nyai pesantren Madura dalam masyarakatnya cenderung dimuliakan dan dihormati. Tersebab, feminisme nyai pesantren Madura berangkat dari sosial-kultural lokal. Menurut Hasanatul Jannah, jenis feminisme nyai pesantren Madura ini masuk dalam kategori indigeunes feminist. Yaitu seorang individu yang tumbuh dari masyarakat lokal berdasarkan interaksi sehari-hari, tanpa disadari dan tanpa mengenalkan dirinya sebagai feminis, tapi memiliki otoritas dan berdaulat atas dirinya sendiri, sehingga memiliki karisma dan pengaruh yang luas di tengah-tengah masyarakat.

Kesimpulannya, bahwa ‘otoritas’ feminis pada nyai pesantren Madura, dinisbatkan karena kapasitas keilmuannya serta peneguhan karakter Islami yang kuat, sehingga masyarakat Madura menjadikannya sebagai sosok panutan dan tempat mencari solusi dari berbagai problem. Di titik ini, nyai pesantren Madura menempati hierarki tertinggi dalam masyarakat.

Buku ini berhasil menyingkap fakta-fakta nyai pesantren Madura yang selama ini jarang diketahui. Membeberkan dengan fakta-fakta real, sehingga pembaca bisa mengetahui secara lengkap tentang pola harakah nyai pesantren Madura.

Judul Buku      : Ulama Perempuan Madura

Panulis            : Hasanatul Jannah

Penerbit           : IRCiSoD

Cetakan           : Pertama, Oktober 2020

Tebal Buku     : 344 Halaman

Ilustrasi: google

~Tulisan ini pernah dimuat di Koran Kabar Madura~

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *