Pertanyaan itu sering kuajukan pada diri sendiri. Jawabannya selalu kembali pada satu momen, sebuah keputusan sangat mentah untuk memilih minat.
Dalam ponselku, tampak dua foto dengan kontras berbeda yang terasa menyipitkan mata. Gambar pertama, seorang santri selama tujuh tahun di pesantren, yang rakus membaca tapi tak pernah menulis. Gambar kedua, pemuda yang sama, beberapa tahun kemudian duduk satu meja dengan Dr. Ninik Rahayu (ketua Dewan Pers 2022-2025), setelah menyimak diskusi tentang kesehatan pers nasional.
Bagaimana bisa? Pertanyaan itu yang sering kuajukan pada diri sendiri. Jawabannya selalu kembali pada satu momen di awal masa kuliah, sebuah keputusan sangat mentah untuk memilih minat.
Ini bukan kisah tentang bakat terpendam. Sebaliknya, ini adalah cerita usang seorang yang merasa bingung di persimpangan jalan. Sebuah ingatan yang mengajari bahwa untuk memulai perjalanan yang tak terduga, modal utamanya bukanlah kehebatan, melainkan keberanian untuk memilih dan memulai.
Pembaca yang Bermimpi Menjadi Penulis
Latar belakangku murni santri. Duniaku adalah bacaan. Kitab kuning, novel sastra, hingga buku pemikiran, semuanya kusantap habis. Aku adalah pelahap kalimat yang rakus, tetapi produsen yang lumpuh. Saat kaki menginjak gerbang UIN Sunan Kalijaga dan bergabung dengan Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), aku dihadapkan pada tradisi yang membingungkan, menentukan minat.
Di tengah riuh opsi, pilihan jatuh pada komunitas menulis. Keputusan ini sepertinya lahir didasari dua hal.
Pertama, kekaguman. Aku adalah penggemar berat Karen Armstrong. A History of God adalah salah satu karya kerennya. Armstrong menunjukkan bahwa gagasan manusia tentang Tuhan tidaklah beku, ia berevolusi, dibentuk ulang oleh setiap generasi sesuai denyut zamannya. Cara Armstrong merajut sejarah pemikiran yang rumit menjadi narasi yang mengalir seperti novel membuat sebuah pantikan muncul di benak, “Bisakah aku melakukan hal yang sama?” bagiku kekaguman itu menyalakan api kecil untuk belajar bercerita melalui tulisan.
Kedua, keterbatasan. Aku sadar betul, jika sering gagap saat harus bicara. Kata-kata sering kali terasa seperti kerikil yang macet di tenggorokan. Menulis menjadi arena sunyi, sebuah jeda di mana aku bisa berpikir, menata argumen, dan akhirnya menemukan suara sendiri.
Modalnya hanya dua, kekaguman pada seorang penulis besar dan kesadaran atas kekurangan diri.
Menatap Halaman Kosong
Euforia awal memilih minat dengan cepat berubah menjadi teror. Saat aku mendapat tugas menulis artikel pertamaku, yang kulakukan justru menatapi halaman putih kosong. Semalam penuh hanya satu kata yang sanggup kutulis, “Rokok”. Tugas ini terasa seperti misi mustahil. Semua penyakit klasik penulis hadir, bingung memulai dari kalimat mana, paragraf terasa kaku, dan arah pembahasan yang meliar ke mana-mana.
Namun, pertarungan terberat bukan di layar laptop, melainkan di dalam kepala. Suara-suara sumbang itu terus berdengung, cemas tulisan dianggap jelek, takut dicemooh, dan rasa tidak percaya diri yang melumpuhkan setiap jari yang hendak menekan tombol keyboard kecuali backspace.
Di titik inilah aku bersyukur tidak sendirian. Fairus dan Alby adalah rivalku dalam lomba pusing ini.
Aku dimentori oleh beberapa para senior, Sahabat Slamet Makhsun dan Pahmi Attaptazani diantaranya. Mereka tidak mencekoki teori-teori menulis yang muluk. Mereka hanya membisikkan satu mantra yang mengubah segalanya.
“Tulisanmu pasti jelek!. Berani menulis jelek adalah syarat utama untuk bisa menulis bagus.” Ejek Makhsun sambil tertawa.
Kalimat itu seperti olok-olok pembebasan yang membuka belenggu. Aku mulai menulis dengan kesadaran penuh bahwa tulisan pertama tidak harus sempurna. Yang penting, ia ada. Ia lahir.
Di titik inilah aku bersyukur tidak sendirian
Efek Domino dari Kemenangan-kemenangan Kecil
Setelah melewati proses revisi yang berdarah-darah, artikel pertama berjudul “Udud Cerahkan Otak, Mitos atau Medis” itu akhirnya terbit. Melihat namaku tercantum di bawah judul tulisan untuk pertama kalinya adalah sebuah suntikan dopamin digital yang luar biasa. Perasaan itu menjadi candu yang sehat. Kemenangan kecil ini memantik api yang lebih besar, Aku ingin menulis lagi.
Semangat itu terus kujaga. Aku terus menulis. mengirim tulisan ke Geger.id, bahkan memberanikan diri mengirimnya ke media lain. Beberapa berhasil dimuat di NU Online. Kemudian, konsistensi yang tampak sepele ini membuahkan hasil tak terduga. Seorang dosen memperhatikan tulisan-tulisanku dan menawari sebuah kesempatan untuk ikut mengelola jurnal ilmiah.
Peran baru ini memaksaku untuk “naik kelas”. Dari yang semula hanya penulis opini, kini harus akrab dengan struktur argumentasi akademis. Sebagai kurator, aku membaca puluhan jurnal, menelisik metodologi, bahkan belajar sisi teknis pengelolaan web engine jurnal. Minat menulis yang kupilih di awal, secara tak langsung memberiku keahlian baru yang tak pernah terbayang. Puncaknya, didorong untuk berkolaborasi menulis artikel jurnal, dan berhasil terbit.
Kemenangan kecil ini memantik api yang lebih besar, Aku ingin menulis lagi.
Keluar dari Gerbang Kampus, Menuju Dunia Profesional
Jalan setapak yang telah kumulai di dunia tulis-menulis ini ternyata memiliki rute hingga keluar gerbang kampus. Suatu hari, seorang senior yang telah berkecimpung di dunia media profesional menawarkan untuk bergabung dengan Wiradesa.co. Aku mengiyakan, dan kembali menempatkan diri sebagai anak baru.
Di sinilah aku belajar jurnalisme. Bukan lagi esai dan opini, melainkan reportase, wawancara, dan Kode Etik Jurnalistik. Bahkan aku beruntung bisa menyerap ilmu langsung dari pendirinya, Sihono HT, seorang wartawan senior yang menggagas Jurnalisme Desa dan Pers Pancasila di Indonesia. Beliau percaya bahwa narasi yang baik bisa menjadi motor penggerak kemajuan. Bekerja di bawah arahannya membuat saya paham bahwa menulis bukan hanya soal ekspresi diri, tetapi juga soal tanggung jawab sosial.
Puncaknya adalah ketika keterlibatan ini membawaku pada sebuah pertemuan dengan Ketua Dewan Pers. Sebuah lembaga yang menjadi penjaga kemerdekaan pers nasional. Duduk di ruangan itu, di antara para praktisi media lainnya, aku merasa bangga. Pikiran melayang kembali ke sosok santri beberapa tahun silam yang gagap bicara dan tak pernah menulis satu kalimat pun.
Perunggu, dalam lagu “33x”, terasa merangkum cerita ini dalam satu baris magis,
“Jalanmu kan sepanjang niatmu.”
Lirik itu nyata. Jalan yang kutempuh hari ini ternyata benar-benar dibentuk dan diperpanjang oleh niat yang kupilih di awal. Niat itu, ketika dirawat dengan konsistensi, diberi nutrisi dengan keberanian untuk mencoba, dan disiram dengan kemauan untuk terus belajar, akhirnya tumbuh menjadi pohon rindang yang cabangnya menjangkau tempat-tempat yang tak pernah terduga, dan bertemu dengan orang-orang baru yang mendukungmu.
Kurasa bakat atau minat tidak semerta-merta turun dari langit. Momen itu tidak akan pernah datang. Pilih saja satu minat yang membuat sedikit saja penasaran walau mentah. Tekuni itu. Segera pilihlah minatmu hari ini. Rawat niatmu setiap hari.
Sebab, “jalanmu kan sepanjang niatmu”. Ia akan terbentang, persis sepanjang niatmu.









