“Perubahan tidak datang dari keramaian yang bersorak, tapi dari satu tangan yang berani menggenggam kemudi.”
Pagi itu, laut tampak damai bak cermin panjang yang terhampar tanpa sisa embun. Di tepiannya, beberapa orang memancing dengan mata sayu, entah menunggu ikan atau sekedar mencuri kesunyian. Ombak datang silih berganti, menyapu tepian, menelan siapa saja yang berdiri terlalu dekat.
Dalam pandang mata, ada satu tampak sibuk mengatur kail, serius, teratur, seperti balas setiap gerak arus. Beberapa lain hanya terduduk sipu, memandangi permukaan air seolah ada sesuatu yang lebih penting daripada ikan. Sedang di atas perahu-perahu kecil yang rapuh, orang orang berteriak kata yang sama, seakan seluruh dunia hanya punya satu suara “perjuangan!”
Namun, tak semua suara itu datang dari kesadaran. Sebagian hanyalah gema pantulan dari mulut ke mulut yang enggan pernah bertanya “mengapa aku bersuara?”
Yang Mendayung dan Yang Terapung
Dalam gelombang besar organisasi, bisa ditemukan dua arus manusia. Pertama, mereka yang mendayung. Mungkin arah perahu tak selalu jelas, tapi tangannya menggenggam kemudi seperti kesadaran hadir, meski goyah. Mereka ini yang dalam bahasa Arab disebut mujāhid, bentuk fa’il dari kata kerja jāhada berarti orang yang berjuang. Ia subjek. Ia penggerak.
Yang kedua, mereka yang terapung. Mereka ikut melaut, mengucap mantra perjuangan, mengibarkan bendera, tapi sebenarnya tak pernah menyentuh kemudi. Arah perahu bagi mereka bukanlah pilihan, mereka hanya mengikuti ombak menggiring. Dalam bingkai inilah muncul istilah simbolik yang penulis pakai hari ini mujāhad. Kali secara tata bahasa Arab, bentuk maf‘ūl menunjuk pada objek dari perbuatan: bukan pelaku, melainkan yang dikenai tindakan. Maka, Mujahad adalah yang diperjuangkan, atau bahkan dijadikan alat perjuangan. Perbedaan ini bukan hanya sekedar permainan lidah tetapi struktur relasi kuasa.
Bahasa Menyingkap Realitas
Bahasa tidak pernah benar-benar netral. Setiap lekukan katanya menyimpan posisi, siapa yang berkuasa, siapa yang dikuasai. Dalam tubuh organisasi mahasiswa, sebut saja arus besar tempat kita berdiri—kata perjuangan sering dijadikan mantra, bukanlah sebuah kesadaran. Mantra ini membius, setiap orang merasa telah menjadi pejuang, padahal sebagian hanya menjadi batu karang yang digulung arus.
Para Mujahid melawan arus, meski sesekali tenggelam. Para Mujahad…. Mereka tidak pernah benar-benar berenang. Mereka hanya terapung, dengan wajah seakan mereka sedang bergerak maju, padahal ombak lah yang mengatur arah. Di sinilah letak bahaya paling halus dari sistem organisasi yang kotor, mereka membuat banyak orang percaya sedang berjuang, padahal hanya diperjuangkan untuk kepentingan yang tidak pernah mereka pahami sepenuhnya.
Laut ini pernah jernih. Tapi lambat laun, arusnya menjadi ritual. “Perjuangan” menjadi upacara tahunan, bukan gerak sadar. Para senior mewariskan cara-caran licin, bukanlah semangat untuk memperjuangkan ide, tapi untuk mempertahankan kursi dan jabatan. Mereka memoles ambisi menjadi romantika. Kemudian mereka menyebutnya perebutan posisi adalah sebagian dari jihad.
Padahal di balik gelombang, ada jaring besar yang menangkap siapa saja yang menolak patuh. Maka lahirlah generasi Mujahad, kader-kader yang tak lagi punya keberanian menyoal arah. Mereka tumbuh dalam keheningan yang dipaksakan. Setiap kata harus sama, setiap gerak harus seirama. Mereka tak sadar bahwa laut ini bukan lagi tempat berlayar, tapi kubangan kekuasaan.
Antara Kehendak dan Kepasifan
Will to power, ucap Nietzsche. Bahwa kehendak untuk berkuasa adalah sebagai tenaga hidup manusia. Dalam konteks ini, seorang Mujahid adalah subjek Nietzschean. Mereka sadar akan kehendaknya, mereka melawan arus, orang seperti ini tidak pernah takut menciptakan maknanya sendiri. Dan tidak pernah menunggu komando.
Sebaliknya, Mujahad adalah manusia kawanan (Herde Mensch) sebagaimana kritik Nietzsche, bahwa orang yang hidup dalam bayangan kehendak orang lain, tanpa keberanian untuk menjadi diri sendiri disebut sebagai Herde Mensch. Yang kemudian Jean-Paul Sartre menambahkan lapisan tajam, yaitu manusia diciptakan tanpa esensi, dan hanya menjadi manusia sejati saat mengambil keputusan sendiri.
Dalam organisasi, Mujahid adalah mereka yang eksistensinya hidup, mereka membuat pilihan, meski salah. Tapi Mujahad hidup bad faith, percaya bahwa “ ini sudah jalan organisasi,” lalu berhenti berpikir. Dengan demikian, perbedaan Mujahid dan Mujahad bukan hanya soal tindakan, tapi tingkat kesadaran eksistensial.
Pada khazanah tasawuf, jihad bukan semata pertarungan lahiriah, melainkan jihad akbar, perjuangan melawan hawa nafsu, melawan keangkuhan dan ketakutan untuk berpikir sendiri. Seorang salik (penempuh jalan rohani) tidak akan pernah sampai ke malam kemurnian jika hanya ikut suara orang banyak. Mujahid dalam pengertian ini adalah mereka yang menempuh jalan sunyi. Kita perlu sadar bahwa gelombang besar bukan untuk diikuti buta-buta, tapi ditaklukkan dengan kesadaran.
Sedangkan Mujahad adalah mereka yang berzikir dengan lidah, tapi tidak dengan jiwa. Mereka hanyut dalam ritual perjuangan, meski kehilangan ruh perjuangannya itu sendiri. Layaknya kapal kosong, ia bergerak tapi tidak punya arah. Jiran yang sejati bukan sekedar berteriak “lawan!” Di pinggir pantai, tapi berani melawan arus dalam diri sendiri.
Laut yang Busuk
Lupakan saja ucapan seremonial bahwa organisasi yang sehat akan melahirkan para pejuang yang hebat. Kenyataannya justru sebaliknya, organisasi yang busuk hanya akan melahirkan ribuan Mujahad. Mereka adalah kader-kader patuh, mudah digiring, dan siap dijadikan pion dalam sebuah permainan yang tidak pernah mereka tulis sendiri.
Prosesnya berjalan sistematis. Mereka belajar untuk tidak bertanya dan dilatih hanya untuk meniru. Sehari-hari, mereka dikepung oleh kata-kata besar seperti “idealisme, perjuangan, dan pergerakan”, padahal yang dididik sesungguhnya hanyalah ritual kekuasaan.
Ironisnya, para senior bukan lagi pendayung, melainkan nelayan yang menjala kader demi kepentingannya sendiri. Mereka membingkai kepatuhan sebagai loyalitas, padahal itu adalah bentuk penjinakan. Ini bukan lagi sekadar soal perebutan jabatan, tetapi soal hilangnya kesadaran kolektif , kesadaran yang terkubur begitu dalam hingga akhirnya tidak pernah bisa bangkit lagi. Maka dari itu, laut organisasi menjadi keruh bukan karena badai dari luar, melainkan oleh racun yang membusuk dari dalam.
Menjadi Perahu Sendiri
Tentu saja, tidak semua harus tenggelam. Pasti selalu ada yang diam-diam belajar mendayung sendiri, meski kecil, meski goyah. Mereka yang berani berkata “tidak” pada arus lama, bukan untuk keluar dari laut, namun untuk membuka arah baru. Inilah Mujahid sejati, jadi mereka bukan hanya lantang bicara tentang perjuangan, tapi mereka yang menemukan suara sendiri di tengah kebisingan arus. Mereka tak tunduk pada romantika sejarah organisasi yang dijadikan alat, melainkan mereka sendiri menciptakan sejarah baru dengan kesadaran jernih.
Laut tidak akan pernah berhenti. Ombak akan terus datang, membawa suara-suara lama yang meninabobokan. Tapi perlu diingat bahwa laut juga bisa dipecah, baik oleh keberanian, oleh kesadaran, oleh tangan-tangan kecil yang tidak takut mendayung.
Dengan memberikan perbedaan Mujahid dan Mujahad sebagai telaah pengertian baru, bentuk kesadaran terhadap temuan peta eksistensial dan politis. Selama organisasi membiarkan kadernya hanyut, selama itu pula organisasi tidak akan pernah tumbuh. Tapi jika ada yang berani menjadi Mujahid, meski satu perahu kecil, maka arus besar bisa retak. Ingat, perubahan tidak datang dari keramaian yang bersorak, tapi dari satu tagan yang berani menggenggam kemudi. Dan di manakah posisi Anda? Mujahid apa Mujahad.









