Oleh: Ahmad Zaky Solakhudin*
Melankolis merupakan suatu sifat yang selalu dikaitkan dengan berbagai hal-hal negatif seperti sedih, galau, bahkan depresi. Dalam KBBI, melankolis diartikan sebagai keadaan pembawa lamban, pendiam, murung, sayu. Tentunya kita semua paham bahwa melankolis adalah sifatnya para interovet yang bisa dikatakan sama halnya dengan tertutup.
Sifat interovet bisa diartikan sebagai buah dari kepribadian yang mementingkan diri sendiri—fokus mewarnai pemikiran, perasaan dan suasana hati. Seseorang yang memiliki sifat introvet cenderung pendiam tapi bukan pemalu. Perbedaan ini harus ditegaskan. Apabila seseorang disebut pemalu, maka dia sedang berada di situasi tertentu yang menyebabkan dirinya sendiri merasa tidak enak, tidak percaya diri, dll. Sebaliknya, introvet adalah sifat yang memang bawaan dan tidak membutuhkan sebab perasaan tertentu sehingga seseorang jatuh dalam situasi tersebut.
Lain hal, melankolis merupakan sifat yang berkonotasi positif meskipun seorang yang memiliki sifat ini cenderung lebih nyaman tertutup. Orang yang melankolis lebih suka diberi daftar pekerjaan yang harus diselesaikan, ketimbang disuruh memilih. Ini pula yang menjadikannya lebih mementingkan orientasi pekerjaan daripada orang lain. Si-Melakolis sendiri cenderung lebih kreatif yang memiliki segudang ide menarik yang kemudian tidak mudah bosan serta semangat motivasi yang tinggi. Loyalitas juga menetap pada seseorang yang memiliki kepribadian ini, mereka cenderung loyal kepada seseorang yang telah dipercayai dan dihormati.
Orang yang melankolis bisa dibilang memiliki kepribadian sempurna. Cenderung lebih tertata. Hal sekecil apapun akan dipikirkan dan dipertimbangkan dengan sabar. Walau demikian, sesempurna apapun manusia, tentu memiliki sisi-sisi kekurangannya.
Sama halnya dengan kepribadian Melankolis, di antara sisi kurang baiknya seperti selalu menuntut diri menjadi sempurna, dan ketika kesempurnaan itu tidak dicapai maka Si-Melankolis ini mudah menyalahkan dirinya sendiri maupun orang lain, sifat perfeksionis ini menyebabkan Si-Melankolis menetapkan standart hidup yang tinggi dan ambisius.
Selain itu, ketika mengkritik, si Melankolis bisa menghakimi sesuatu yang sangat tegas, keras, dan tajam sesuai dengan standart yang telah ditetapkan olehnya. Hal ini akan mengantarkan kepada sifat sangat sensitif dan mudah tersinggung kepada siapa pun yang mengkritiknya.
Bagitupun tentang hal yang dipikirkan. Seorang melankolis sangat identik dengan seorang pemikir. Hal ini menyebabkan Si-Melankolis tenggelam dan hanyut dalam hal-hal yang dipikirkannya, bahkan dalam jangka panjang akan berdampak pada sikap yang tidak mudah diajak senda gurau—guyon. Tidak sedikit dari mereka lebih mudah overthinking, karena seringkali sibuk dengan pemikiran mereka sendiri.
Pujian itu perlu disaat seseorang telah menyelesaikan suatu pekerjaan, akan tetapi si-Melankolis sebagai seseorang yang dipuji selalu memiliki skeptisitas perihal pujian-pujian yang disanjungkan padanya. Pun sebaliknya, malah mendatangkan rasa curiga yang begitu besar. Tidak mudah percaya dengan ucapan maupun pujian dari orang lain.
Itulah sedikit penjelasan dari penulis tentang kepribadian melankolis. Uraian ini bukan berarti menjadi bahan untuk mencela maupun menghakimi orang lain. Tetapi lebih kepada evaluasi bersama agar dapat mengukur seberapa kelebihan serta kekurangan yang kita miliki.
“Manusia merupakan makhluk sosial kolektif. Suatu perpecahan dimulai antar dua orang yang tidak menerima sifat satu sama lain”
Ilustrasi: google
)* Kader PMII Rayon Pembebasan, Mahasiswa Aqidah dan Filsafat UIN Jogja









