Beranda / Esai / Ilmiah / Analisis Sosial (ANSOS) PMII

Analisis Sosial (ANSOS) PMII

analisis sosial

Oleh: Fatih Ibrahim* & M. Alfian Ilyasa**

~Tulisan dibawah ini merupakan materi follow up Masa Penerimaan Anggota (MAPABA) PMII Rayon Pembebasan Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam UIN Sunan Kalijaga tahun 2021~

 

Hampir sebagian besar dari kita sepakat bahwa manusia merupakan makhluk sosial. Sosial di sini berarti sudah menjadi kewajaran jika antar manusia sebagai individu saling membutuhkan satu dengan yang lainnya dalam menjalankan kehidupan sehari-hari.

Oleh karena itu, manusia perlu memiliki suatu komponen yang dapat mengerti, apa dan bagaimana realitas yang terjadi dalam kehidupan secara sosialnya. Komponen penting ini adalah yang sering disebut sebagai Analisis Sosial (ANSOS). Mudahnya, analisis sosial adalah upaya untuk menempatkan suatu masalah dalam konteks realitas sosial yang lebih luas yang mencakup konsep waktu (sejarah), ruang (tempat dan lokasi), struktur (ekonomi, politik, budaya, nilai, dan agama).

Burrel dan Morgan membagi cara dalam menganalisa kondisi sosial yang didasarkan pada perbedaan pandangan tentang sifat dasar ilmu sosial dan sifat dasar dari masyarakat ke dalam empat paradigma (humanis, strukturalis, fenomenologis, dan fungsionalis).

Dalam rangka mengembangkan empat paradigma tersebut, Dillard dan Becker kemudian berinisiatif menjelaskannya melalui pendekatan organizational sociology. Pertama, paradigma interpretatif, yakni lebih menekankan pada interpretasi, peranan bahasa, dan pemahaman. Menurut paradigma ini, realitas sosial adalah sesuatu yang ada dalam diri manusia sehingga sifatnya subjektif dan bukannya objektif. Tujuan pendekatan dalam paradigma interpretatif ini adalah menganalisis realitas sosial dan bagaimana realitas sosial tersebut terbentuk.

Kedua, paradigma fungsionalis yang merupakan paradigma yang paling lazim digunakan. Paradigma fungsionalis memiliki kesamaan dengan paradigma Interpretatif yang lebih lunak dalam melawan status quo. Mereka memiliki kecondongan pada pendekatan positivis ala ilmu alam. Sehingga wajar jika paradigma ini mendewakan rasional serta berpijak pada sosiologi keteraturan yang lebih mirip dengan pendekatan ilmu alam ketimbang ilmu sosial.

Ketiga, paradigma humanis radikal. Ialah paradigma yang lebih lebih menekankan terhadap idealisme humanistik dan nilai-nilai dibandingkan dengan tujuan sosial kemasyarakatan. Pandangan dasar paradigma ini adalah adanya suatu yang memiliki kekuasaan super di luar diri manusia yang mampu membelenggu sehingga terjadi pemisahan kesadaran dan melahirkan kesadaran palsu. Pandangan paradigma ini memiliki kesamaan dengan pandangan yang selanjutnya akan dibahas bagaimana perlu adanya perubahan secara radikal dalam melawan keterkungkungan.

Ke-empat, paradigma struktural radikal. Paradigma ini, sebenarnya memiliki kesam dengan paradigma humanis radikal dalam kaitannya dalam melawan keterkungkungan manusia (fatalisme, dll). Paradigma struktural radikal memfokuskan pada konflik mendasar sebagai produk dari adanya hubungan kelas, struktur pengendalian, dan memperlakukan dunia sosial sebagai objek eksternal dan terpisah dari manusia.

Paradigma Struktural Radikal ini berupaya memperjuangkan sosial masyarakat melalui perubahan secara radikal dengan berusaha melawan semua tatanan sosial yang membelenggu masyarakat kelas yang didominasi.

Jenis paradigma yang dipakai oleh PMII adalah paradigma struktural radikal. Kemudian karena jenis kesadaran yang ditumbuhkan dalam PMII adalah kesadaran kritis—bukan kesadaran naif atau bahkan kesadaran magis—bagi setiap kader maupun anggota, kita sepakat bahwa asal-usul kehidupan sosial dipengaruhi adanya struktur masyarakat yang berada di luar individu.

Struktural ini memungkinkan untuk membentuk kekuasaan berlebih pada satu pihak yang memperoleh keuntungan darinya. Keuntungan ini berasal dari hubungan eksploitatif (tidak setara) antara kelompok yang beruntung dengan kelompok yang kurang beruntung di dalam masyarakat.

Ilustrasi: pinterest

 

*) Pengurus Rayon PMII Pembebasan, Mahasiswa jurusan Aqidah dan Filsafat UIN Sunan Kalijaga

**) Pengurus Rayon PMII Pembebasan, Mahasiswa jurusan Ilmu Hadis UIN Sunan Kalijaga

 

 

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *