Oleh: Muhammad Nasrullah* & Akmal Lutfi B**
~Tulisan dibawah ini merupakan materi follow up Masa Penerimaan Anggota (MAPABA) PMII Rayon Pembebasan Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam UIN Sunan Kalijaga tahun 2021~
Manusia secara identitas terkonstruk dari dua hal, yakni fisikal dan non-fisikal. fisikal yang dimaksud yakni seperti tangan, wajah, kaki, dan semacamnya. Sedang, manusia secara non-fisikal yang yakni seperti akal, perasaan, dan semacamnya.
Manusia dalam mengarungi kehidupan tentu harus memiliki prinsip. Sebab, prinsip sebagai mediator atau jalan dalam mencapai suatu tujuan. Dalam menentukan prinsip hidup, terlebih dahulu manusia harus selesai dengan pribadinya. Artinya, manusia harus dapat menganalisis dirinya, dengan demikian, akan tahu perihal kekurangan dan kelebihan yang terdapat pada dirinya.
Secara konseptual, menurut Sigmund Freud, manusia secara non-fisikal (kejiwaan) ada tiga tahapan dalam setiap pribadi manusia. Tiga tahapan tersebut meliputi sadar, prasadar, dan tak sadar atau bila menggunakan bahasa Freud yakni conscious, preconscious, dan unconscious.
Dalam coniscious, secara pengertian adalah tingkatan yang berisi semua hal yang dicermati pada saat tertentu. Pun demikian pada tahapan preconscious berupa ingatan siap (available memory), pada posisi ini menjadi jembatan antara tingkatan “sadar” dan “tak sadar”. Sedangkan unconscious, bukanlah merujuk pada abstraksi hipotetik, tetapi kenyataan yang berisi insting, impuls, dan drives yang dibawa dari lahir serta hal-hal traumatik yang ditekan dari conscious ke unconscious.
Manusia dalam mengarungi proses kehidupan tentu akan mengalami hal yang demikian. Sederhananya, kita sebagai kaum gerakan secara sadar akan merangkum segala bentuk pengetahuan secara langsung maupun tak langsung—realitas objektif atau teoritis belaka. Hal tersebut tergolong sebagai kategori sadar atau conscious. Kesadaran merupakan bagian dari kehidupan mental. Misal, sadar berpikir, berpendapat, dan semacamnya.
Pada tahap prasadar (preconscious), manusia akan menjadi makhluk yang berpikir untuk mencapai tahap sadar atau tidak. Mulanya manusia akan memperhatikan sesuatu. Kemudian ia tak akan memperhatikan sesuatu. Sederhananya, manusia akan terus memperhatikan hal-hal baru dalam kehidupan.
Namun, seiring berjalannya waktu, manusia tak akan memperhatikan itu lagi dengan segala penyebabnya. Misal, manusia pada suapan pertama nya sadar bahwa ia makan. Namun, pada suapan ke sepuluh ia tak akan sadar bahwa tangan dan mulutnya sedang menunaikan hak perut untuk dikenyangkan.
Pada tahap tak sadar (unconscious), manusia dalam kategori ini digerakkan melalui insting, impuls, keinginan-keinginan, dan pengalaman traumatik. Sederhananya, manusia pada tahap tak sadar akan melakukan apapun dengan landasan pengalaman yang kurang baik.
Misalnya, manusia A pernah mengalami kecelakaan di perempatan jalan raya lalu ia trauma. Maka, manusia A tersebut tanpa sadar setiap melewati perempatan jalan raya ia akan pelan-pelan untuk menghindari kecelakaan. Hal tersebut tanpa sengaja ia lakukan karena ada unsur traumatik dalam dirinya.
Pembahasan tentang pribadi manusia tidak berhenti disitu. Martin Heidegger dalam teori Principle of Identity mengemukakan bahwa manusia dengan manusia lain memiliki suatu identitas yang sama. Walaupun manusia diciptakan berbeda-beda baik secara fisikal maupun non-fisikal, tentu manusia tetap memiliki identitas yang sama. Mengapa demikian? Sebab, manusia adalah makhluk sosial.
Martin Heidegger mengemukakan bahwa manusia terlempar dalam realitas kehidupan. Ia dipaksa untuk turun ke muka bumi. Merupakan konsekuensi logis bila manusia dalam mengarungi kehidupan pasti akan menanyakan “darimana aku?”, “kemana aku?”, dan “mengapa aku ada?”.
Untuk menjawab hal-hal demikian, tentu perlu menyatu langsung dengan realitas yang ada. Martin Heidegger mengemukakan bahwa manusia yang menyatu dengan realitas kehidupan akan terbentuk identitas pribadinya. Bentukan dari identitas tersebut dikenal dengan sebutan mental atau sederhananya bisa dimaknai intelektualitas.
Manusia yang memiliki modal intelektualitas yang beragam tentu akan menciptakan manusia yang berbeda-beda secara identitas. Lantas, bagaimana untuk menyatukan manusia yang memiliki identitas beragam tersebut?
Hakikat manusia, menyandang status “makhluk sosial”. Manusia sebagai makhluk sosial secara konseptual identitas pada diri manusia, mengandung konsekuensi adanya relasi dengan manusia lainnya. Dengan demikian, perbedaan yang ada pada setiap identitas manusia dapat terakomodir, saling terbuka, kooperatif, solidaritas, dan semacamnya sehingga terwujud intelektual organik, atau mudahnya, manusia dapat menjadi khalifah di muka bumi dalam perspektif al-Ghazali.
Manusia sebagai khalifah di muka bumi tentu bukanlah dengan proses yang mudah dan cepat. Al-Ghazali, mengatakan bahwa manusia sebagai human nature adalah makhluk yang suci dan murni (fitrah). Tentu, beliau tidak mengenyampingkan situasi dan kondisi lingkungan yang memiliki peran terhadap perkembangan kejiwaan manusia.
Al-Ghazali juga menambahkan, bahwa manuusia secara alami memiliki kecenderungan egosentris, jarang sekali menyertakan konsekuensi potensial bagi orang lain (ingin menang sendiri).
Al-Ghazali juga menyatakan bahwa hakikat manusia terdiri dari empat unsur, diantaranya al-nafs, al-ruh, al-qalb, dan al-‘aql yang pada kesemuanya berkelindan.
Al–Nafs, Al-Ghazali menggunakan dua pengertian, pertama adalah sesuatu yang menghimpun kekuatan (kekuatan, amarah, dan nafsu syahwat pada manusia). Kedua, al-nafs diartikan sesuatu yang halus yang menjadi hakikat dari manusia itu sendiri (diri dan dzatnya).
Dari kedua pengertian tersebut, nafsu disifati dengan sifat- sifat yang beragam menurut keadaannya, dalam pengertian yang pertama adalah sangat tercela, sementara pengartian kedua adalah terpuji, karena ia adalah diri manusia yakni zat dan hakikatnya yang mengerti terhadap Allah SWT dan pengetahuan- pengetahuan lainnya.
Al-Ruh juga memiliki dua pengertian, pertama memiliki pengertian tubuh yang halus, sumbernya adalah lubang hati jasmani lalu tersebar dengan perantara urat-urat yang merusak ke bagian-bagian badan lainnya dan dalam perjalanannya ruh pada badan, banjirnya cahaya kehidupan, perasaan, penglihatan, pendengaran dan penciuman.
Kedua adalah yang halus dari manusia yang mengerti dan mengetahui dari manusia, dan itulah penjelasan Al-Ghazali mengenai salah satu arti hati dan yang sekiranya sesuai dengan apa yang Allah SWT firmankan dalam surah al-Isra ayat 85.
Ruh adalah urusan Allah SWT, yang mencerdaskan maupun melemahkan akal dalam mengetahui dan memahaminya tentang hakekat dari ruh yang sejati. Adapun al–ruh yang dimaksud Al- Ghazali di sini adalah al-ruh al-hayawan, yaitu merupakan tubuh jism yang halus (jism latif) yang mengalir pada pembuluh nadi ke bagian-bagian tubuh yang lain. Al-ruh al-hayawan itu, merupakan pendorong terhadap kebutuhan makanan yang dapat menggerakkan syahwat dan emosi dan merupakan penggerak dari hati ke seluruh anggota badan.
Al-Qalb dalam istilah al-Ghazali, memiliki dua pengertian. Istilah yang pertama memiliki arti yang mengacu pada fisik, yaitu sepotong daging yang berbentuk buah, daging halus dan di dalamnya terdapat lubang, di dalam lubang tersebut terdapat darah yang hitam yang menjadi sumber ruh dan tambangnya.
Pemaknaan yang kedua mengacu pada sesuatu yang halus, rabbaniyah (ketuhanan) dan ruhaniyah (kerohanian), yang berkaitan dengan jasmani serta memiliki kemampuan untuk memperoleh pengetahuan melalui cita rasa (realitas abstrak), seperti kasih sayang, kebencian, kebahagiaan, kesedihan, iman, kebenaran, ide-ide dan sebagainya.
Al-Qalb ini ialah mihrab Tuhan yang terletak dalam dada setiap manusia, diciptakan oleh Tuhan untuk menyimpan cahaya ilahi dalam diri manusia. Dimensi al-qalb memiliki peranan sangat penting dalam memberikan sifat kemanusiaan bagi psikis manusia untuk memahami dan mempertimbangkan nilai-nilai serta memutuskan suatu tindakan.
Al-‘Aql, secara umum al-Ghazali mendefinisikannya sebagai ilmu tentang hakikat suatu perkara. Atau dengan definisi lain, sebagai yang mengetahui ilmu-ilmu hati, yaitu hati yang halus dan merupakan hakekat manusia yang sama halnya dengan qalb.
Dikatakan demikian, karena keduanya dalam memperoleh pengetahuan tertentu akan saling berkaitan. Al-‘Aql adalah istilah dari jiwa rasional. Adapun perbedaan keduanya ialah, pengetahuan al-qalb diperoleh melalui cita-rasa, sedangkan al-‘aql diperoleh melalui penalaran, dan salah satu fungsi akal adalah menyimpan pengetahuan.
Dari teori Freud, Heidegger, dan Al-Ghazali, bisa kita jadikan alat untuk menganalisis hakikat dari manusia secara universal dan sebagai insan pergerakan. Misal, naluri-naluri ketidakpuasan yang selalu kita rasakan sebagai manusia, dari satu masa menuju masa yang lain yang memiliki potensi untuk menjadi lebih positif dan negatif.
Ketidakpuasan itu perlu pengelolahan yang baik agar peluang menjadi positif lebih terbuka. Manusia sebagai makhluk sosial dan spiritual yang berpikir, berilmu dan memikul amanah adalah makhluk yang terus bergerak maju menuju ke arah kesempurnaan dan bersikap kolektif (komunal).
Ilustrasi: pinterest
Daftar Bacaan:
Sumaryono. E. 1993. Hermeneutik: Sebuah Metode Filsafat. Yogyakarta: Kanisius. Herawati, Azizah. “Kontekstualisasi Konsep Ulul Albab di Era Sekarang”. Fikrah,
Volume 3, No. 1, Juni 2015.
Kartanegara, Mulyadhi. Nalar Religius; Memahami Hakikat Tuhan, Alam dan Manusia. Jakarta: Erlangga, 2007.
Rahmat, Ali. “Konsep Manusia Dalam Perspektif Filsafat Pendidikan Islam”. Kuttab, Volume 1, No. 1, Maret 2017.
Rahmatiah, St, “Konsep Manusia menurut Islam”. S. Hall, Calvin. Sigmun Freud: Suatu Pengantar Ke Dalam Ilmu Jiwa. Bandung: Pustaka Sarjana, 1980.
Suryabrata, Sumardi. Psikologi Kepribadian. Jakarta: Rajagrafindo Persada, 2008. Yudiani, Ema, “Dinamika Jiwa dalam Prespektif Psikologi Islam”, Jurnal JIA, Juni
2013.
Heidegger, Martin Identity and Difference. Terj. Joan Stambough Hardiman Budi, F, “Heidegger dan Mistik Keseharian”
*) Pengurus Rayon PMII Pembebasan, Mahasiswa jurusan Filsafat dan Aqidah Islam UIN Sunan Kalijaga
**) Pengurus Rayon PMII Pembebasan, Mahasiswa jurusan Filsafat dan Aqidah Islam UIN Sunan Kalijaga









