Tidak bisa dipungkiri, manusia masa kini telah terkoneksi satu sama lain melalui serangkaian jaringan internet. Interaksi sosial tidak hanya terjadi di dunia real saja, akan tetapi terjadi pula di dunia virtual. Kita bisa dengan mudah mengetahui apa yang dilakukan teman yang sedang berlibur ria di belahan dunia lain dengan hanya merebah di ranjang, membuka story medsosnya.
Sosial media menjadi salah satu tanda majunya peradaban manusia, manusia dengan cerdiknya mengubah perilaku masyarakat yang mulanya terisolasi, masing-masing kemudian bertransformasi menjadi terhubung dan terkoneksi satu sama lain. Sungguh, makhluk hidup mana lagi yang bisa melakukan transformasi semacam itu jika bukan manusia.
Namun, kebanyakan pengguna sosial media saat ini tidak begitu sadar bahwa mereka adalah ‘produk’ dari sang empunya sosial media, mereka tidak sadar telah diperdaya perhatiannya oleh Pak Mark, Tuan Muda Kevin, Pak Tua Jack dan kawan-kawan satu kaum mereka. Tidak hanya itu, dampak dari minimnya kesadaran tersebut memicu terlahirnya kaum jumudisme pengguna sosial media yang tidak atau bahkan enggan peka terhadap realitas sosial di sekitarnya, ternina-bobokan oleh pengaruh adiksi dan polarisasi dari layanan sosial media tersebut. Tetapi, mengapa hal itu bisa terjadi?
Hematnya, sosial media adalah sebuah wahana interaksi antar sesama pengguna, tetapi wahana tersebut tidak tercipta begitu saja dan berjalan sebagaimana adanya. Wahana tersebut dibuat, diciptakan, dibentuk, diprogram sedemikian rupa oleh penciptanya.
Program-program itu terejawantahkan melalui algoritma-algoritma yang menyusun serangkaian perintah untuk mengatur bagaimana dan harus seperti apa perangkat sosial media tersebut berjalan. Layaknya remot kontrol dari sebuah televisi LED, ketika kita menekan tombol satu maka televisi tersebut akan menampilkan siaran nomor satu sebagaimana yang kita inginkan.
Algoritma pun berlaku sama kepada perangkat sosial media. Jadi, pengguna sosial media tidak sebebas-bebasnya menggunakan perangkat tersebut sebab telah diatur sedemikian rupa oleh penciptanya.
Namun sayangnya, algoritma tersebut diciptakan sangat begitu statis, tidak peduli baik-buruk benar-salahnya. Sehingga tidak adanya filtrasi dalam skema konten yang beredar pada semesta sosial media, akibatnya sangat potensial bagi konten-konten yang unfaedah dan invalid kebenarannya dapat diakses secara mudah dan sembrono oleh khalayak masyarakat maya.
Apalagi algoritma sosial media saat ini menghendaki keuntungan komersial belaka, maka segala apapun jenis konten yang berpotensi mendatangkan perhatian publik dan mendeteksi akan banyak iklan yang masuk, maka secara otomatis konten tersebut akan terdeteksi oleh algoritma dan akan dipertahankan konsisten agar dapat diakses secara cepat oleh khalayak banyak.
Tidak hanya itu, setiap pengguna sosial media akan berbeda-beda dalam jenis konten yang mereka akses, sebab setiap orang pastilah mempunyai minat kesukaannya masing-masing terhadap segala konten yang tersedia, maka algoritma yang bekerja pun akan berbeda-beda pula pada setiap orang.
Bayangkan saja, anda meminati sejenis konten prank, entertainment, gosip artis, teori konspirasi, dll, maka algoritma akan senantiasa menyuguhkan konten tersebut untuk anda nikmati kapan pun dan dimana pun anda membukanya. Setiap anda membuka perangkat sosial media, yang akan anda temukan pasti tidak jauh-jauh dari hal-hal yang anda minati, yang anda tonton, sukai, komentari.
Atas dasar skema algoritma sosial media tersebut, persoalan sosial media yang begitu adiktif dan polaristik pun berlaku. Adiktif sebab algoritma sosial media menghendaki anda, kita semua, siapa saja yang menggunakannya agar terpaku pada layar gadget selama mungkin dan ia tidak akan membiarkan anda begitu mudah untuk terlepas darinya. Jika ingin membuktikan seberapa adiktifnya sosial media tersebut bagi anda, cobalah uninstall semua perangkat sosial media pada gadget anda dan lihat seberapa lama anda kuat menahannya.
Begitupun persoalan polaristik, sebab dengan adanya perbedaan kerja algoritma pada setiap orang maka potensi polarisasi di antara masyarakat secara komunal akan mudah dijumpai. Bayangkan saja terdapat dua kelompok besar yang berseteru hebat mengenai bumi bulat dan bumi datar. Satu kelompok mempercayai bahwa bumi itu berbentuk datar sebab bumi bulat adalah sebuah konspirasi jahat dari NASA, masing-masing dari mereka secara berkala mendapati berbagai konten ihwal bumi datar, konspirasinya, propagandanya, bukti-buktinya, dan lain-lain.
Lain halnya dengan para penganut bumi bulat. Sebaliknya, mereka meyakini bahwa bumi harus berbentuk bulat sebab dari pengamatan saintifik bentuk yang paling memungkinkan dari bumi adalah suatu bola bulat, linimasa sosial media mereka penuh dengan berbagai konten sejenis itu. Kedua kelompok itu berseteru habis-habisan tiada ujungnya. Mereka seolah-olah berkata dengan membusungkan dadanya bahwa “aku adalah kebenaran, aku adalah kebenaran”. Bagaimana? Sangat ironi bukan?
Itu adalah salah satu contoh polarisasi yang diakibatkan oleh sosial media, bayangkan ada berapa persoalan polarisasi pelik lainnya lagi. Bahkan persoalan sepele antara bubur diaduk dan tidak diaduk saja menimbulkan perdebatan berkepanjangan bagi para penganutnya. Apalagi persoalan yang kompleks seperti ekonomi, politik, agama, dan ras.
Seperti itulah sekelumit dari kerja algoritma sosial media (Facebook, Twitter, Tiktok, Instagram, Youtube, dll). Algoritma sangat begitu statis, ia tidak bisa memilah dan memilih mana yang tidak dan harus diakses oleh pengguna. Sebab kembali pada pernyataan awal, “algoritma sosial media saat ini menghendaki keuntungan komersial belaka, maka segala apapun jenis konten yang berpotensi mendatangkan perhatian publik dan mendeteksi akan banyak iklan yang masuk, maka secara otomatis konten tersebut akan terdeteksi oleh algoritma dan akan dipertahankan konsisten agar dapat diakses secara cepat oleh khalayak banyak.’
Dengan begitu, pencipta sosial media tersebut akan mendapat keuntungan yang sangat besar melalui iklan yang masuk, banyaknya konten yang kita akses dan adiksi yang memengaruhi kita untuk terus terpaku di depan layar. Tentunya sang empunya sosial media tidak peduli dengan segala macam persoalan sosial media, bagi mereka yang terpenting adalah mendatangkan banyak keuntungan dan profit. Selesai.









