Tuhan, Takdir-Mu Tak Pernah Salah
Dalam gundah aku menengadah
Dalam resah, ku berpasrah
Dalam pilu, ku mengadu
Dalam luka, aku meminta
Aku yakin takdir tak mungkin salah
Hanya aku saja yang banyak mengubah arah
sesal yang datang semakin merebah
Tercerai berai dalam setiap langkah
Tuhan…
Aku ingin menyampaikan sebuah pesan
Pada indah setiap kepakan sayap merpati
Tentang putih darma cinta Mu, Sang Maha Rahman
Aku berpasrah diri…
Perihal Rasa
Tak lama lagi bulan berganti dengan matahari
Langit malam yang mulanya hening dan dingin
Perlahan hilang terbawa suasana hati yang kini mulai terisi
Ku tanyakan pada langit yang sudah mulai menguning
Apakah ini sinyal dari ilahi?
Tentang rasa yang selama ini ku pendam sendiri
Tanpa pernah ku ceritakan semuanya kecuali kepada sang maha suci?
Tentang doa yang selalu berakhir dengan tangis?
Ahh aku terlalu malu jika harus mengungkapkannya
Aku takut jika cinta hanya bagaikan proklamasi
Yang dirasakan dengan seksama
Lalu hilang dengan tempo sesingkat-singkatnya
Tersadar
Berangkat dari sebuah kesadaran dan bingkai harapan
Ku coba tata kembali dari awal apa yang sudah lama ditinggalkan
Masa-masa yang dahulu manis dengan balutan agamis
Kini…kian hari kian menipis
Aku rindu semua itu…
Di saat aku rapuh, suara gemuruh dari lantunan firman mu lah
Yang menguatkan ku kembali
Mengingatkan ku kembali kepada fitrahku sebagai Muslim
Yang suatu saat akan dikembalikan kepada sang ilahi
Rebah
Pekik bahana, pekak telinga
Lukai hati, mengiris rasa
Pergi timang, sirna dekapan
Luruh kasih, lesap buaian
Budi terlukis dalam kata
Adab tergambar dalam sabda
Hasrat terpantul dalam cerminan
Jiwa terungkap dalam simpulan
Hangus dada, murka angkara
Larut suaka, renggang nirwana
Kasih berangan,
Harap terhalang, gelap bayangan
Tak lagi bening pantulan kaca
Tak lagi indah bulan purnama
Rapuh lapuk tonggak ikatan
Terhempas rebah tiang sandaran
Ilustrasi: google









