Beranda / Seni dan Sastra / Tuhan, Takdir Mu Tak Pernah Salah ~ Puisi Fayad Dzikrul Rachman

Tuhan, Takdir Mu Tak Pernah Salah ~ Puisi Fayad Dzikrul Rachman

Tuhan

Tuhan, Takdir-Mu Tak Pernah Salah

Dalam gundah aku menengadah

Dalam resah, ku berpasrah

Dalam pilu, ku mengadu

Dalam luka, aku meminta

 

Aku yakin takdir tak mungkin salah

Hanya aku saja yang banyak mengubah arah

sesal yang datang semakin merebah

Tercerai berai dalam setiap langkah

 

Tuhan…

Aku ingin menyampaikan sebuah pesan

Pada indah setiap kepakan sayap merpati

Tentang putih darma cinta Mu, Sang Maha Rahman

Aku berpasrah diri…

 

 

Perihal Rasa

Tak lama lagi bulan berganti dengan matahari

Langit malam yang mulanya hening dan dingin

Perlahan hilang terbawa suasana hati yang kini mulai terisi

 

Ku tanyakan pada langit yang sudah mulai menguning

Apakah ini sinyal dari ilahi?

Tentang rasa yang selama ini ku pendam sendiri

Tanpa pernah ku ceritakan semuanya kecuali kepada sang maha suci?

Tentang doa yang selalu berakhir dengan tangis?

 

Ahh aku terlalu malu jika harus mengungkapkannya

Aku takut jika cinta hanya bagaikan proklamasi

Yang dirasakan dengan seksama

Lalu hilang dengan tempo sesingkat-singkatnya

 

 

Tersadar

Berangkat dari sebuah kesadaran dan bingkai harapan

Ku coba tata kembali dari awal apa yang sudah lama ditinggalkan

Masa-masa yang dahulu manis dengan balutan agamis

Kini…kian hari kian menipis

 

Aku rindu semua itu…

 

Di saat aku rapuh, suara gemuruh dari lantunan firman mu lah

Yang menguatkan ku kembali

Mengingatkan ku kembali kepada fitrahku sebagai Muslim

Yang suatu saat akan dikembalikan kepada sang ilahi

 

 

Rebah

Pekik bahana, pekak telinga

Lukai hati, mengiris rasa

Pergi timang, sirna dekapan

Luruh kasih, lesap buaian

 

Budi terlukis dalam kata

Adab tergambar dalam sabda

Hasrat terpantul dalam cerminan

Jiwa terungkap dalam simpulan

 

Hangus dada, murka angkara

Larut suaka, renggang nirwana

 

Kasih berangan,

Harap terhalang, gelap bayangan

 

Tak lagi bening pantulan kaca

Tak lagi indah bulan purnama

Rapuh lapuk tonggak ikatan

Terhempas rebah tiang sandaran

 

Ilustrasi: google

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *