Oleh: Agus Widiey*
Balada Luka
di bawah bulan kelindan
pikiranku menyimpan pertanyaan:
akankah aku tak bisa menulis puisi
selain rindu yang terbuat dari sepi?
setiap kata adalah duka
yang sesak dengan air mata
sebab nada-nada pilu
lahir dari harapan bisu
adapun nyanyian rindu
menjadi ketabahan waktu
setiap instrumentalia kenangan
membawa berita luka dan penyesalan.
Sumenep, 2021
Siklus Bayang
ada yang kembali setelah pergi
ia tak harus menunggu rindu
untuk memburu anganku
hingga larut sunyi
walau kedipan telah berakhir
tapi bayang-bayang terus berdesir
di antara gelap dan terang
sampai pada batas harapan
terkadang di lain kisah
rindu mengabdi pada resah
ia mengelilingi sebilah ingatan
dalam setangkup penantian
sebagaimana laron di bawah cahaya
sehabis hujan reda.
Sumenep, 2021
Setelah Hujan Reda
ada yang ingin aku ceritakan
setelah hujan reda di halaman perasaan
ihwal daun-daun yang menggigil
dan juga basah hati di lubang sunyi
sementara yang membekas dari deras hujan
pada batu yang berlumut rindu
serta sembilu-pilu yang memburu
inilah yang ingin aku ceritakan
setelah hujan reda di halaman perasaan
dan menakwil musim yang tak tentu
kapan ia akan menanggalkan rindu.
Sumenep, 2021
Gerimis Sebelum Subuh
Gerimis sebelum subuh
mengundang dingin semakin teduh
halaman ingatan kembali basah
dengan aliran kenangan yang absah
Gerimis sebelum subuh
membawa angin riuh
menerpa imun dalam tubuh
hingga wabah kembali kambuh
Gerimis bukan di musimnya
meneteskan banyak air mata.
Pakondang, 2021
Ilustrasi: google
*)Santri aktif pondok pesantren Nurul Muchlishin Pakondang, Rubaru, sekaligus menjadi redaktur di Radar Aliyah (Komunitas Pelajar Peduli Literasi). Puisi-puisinya termaktub dalam antologi bersama dan dimuat dipelbagai media online dan cetak.









