Oleh: Muhammad Syahroni*
Muka-Muka Lusuh
di sudut simpul senyumnya
terekam hujan di pemakaman
pada suatu sore dan
jalanan-jalanan telah mencatat
hanya memiliki nama
tanpa isi—anak kecil
berjalan mengukur kasih Tuhan;
barangkali di sana ada merpati
merawat bapak atau ibunya
tinggal mata segelap malam tanpa bintang
direngkuh suara lengking jerit kehidupan
meremas-remas masa kecil yang cemerlang
menjadi debu yang disapu angin
Silsilah Kehilangan
genap segala riwayat kucatat
siapa yang dapat merumat waktu
siapa yang dapat menerka maut
yang datang begitu lembut
atau petrichor sehabis gerimis
setelah kemarau menghapus segala yang nyaris tamat;
tinggallah aku sendiri merumat segala yang cacat
Pulang
pulanglah menjenguk panci di tungku
yang telah lama tak membara,
masih adakah kasih ibu di sana
atau lihatlah di pigura kamarmu,
masih adakah simpul senyum yang kau kenang
sewaktu kecil dulu?
sebelum sampai di muara liang
aku ingin kau melihat wajahku
dan kenanglah segala peristiwa
sebelum sia dan percuma
segala tangi, kata-kata & air mata
Meja Makan
di meja makan
kita utuh merawat sepi
sendok dan piring sama diamnya
dan gelas telah menjerit kehausan;
sesendok suara
kucelupkan ke dalam telingamu
lantas kau melenting
dan memantul di lantai
memuntahkan sejumlah peristiwa dari lambungmu
aku pun turut menggelinding ke dinding menjelma pigura
lantas meja makan itu
kini telah dirawat sepi
dan sepi telah merawat mayat dan piguraku
Ilustrasi: google
*)Mahasiswa Universitas Lampung









