Oleh: Tifanni Yussi Valentina*
Novia~ Belum lama ini, sedang ramai diperbincangkan masyarakat terkait kasus seorang mahasiswi yang bernama Novia Wisyasari (23 tahun) yang meninggal dengan bunuh diri di atas makam Ayahnya. Novia diduga depresi karena dipaksa aborsi oleh pacarnya, Randy Bagus, yang diketahui bahwa dia adalah salah satu anggota kepolisian. Randy sering meminta korban untuk minum obat-obatan untuk menggugurkan kandungannya.
Kasus tersebut viral. Per Sabtu 4 Desember 2021, tagar #SAVENOVIAWIDYASARI memuncaki deretan trending topik twitter Indonesia dengan jumlah cuitan hampir ratusan ribu. Menurut informasi yang tersebar di berbagai portal berita, sebenarnya Novia sempat mengadukan masalah yang dialaminya kepada Komnas Perempuan pada Agustus 2019. Dia melaporkan bahwa dirinya mengalami kekerasan seksual. Aduan tersebut dibenarkan oleh Siti Aminah Tardi, selaku komisioner Komnas Perempuan. Siti menyebutkan bahwa Novia menjadi korban eksploitasi seksual dan pemaksaan aborsi.
Sementara itu, Randy telah divonis sebagai tersangka dan ditahan di Polda Jatim dengan dijerat pasal 348 KUHP dan pasal 55 KUHP. Yakni dengan ancaman lima tahun penjara. Randy juga telah diberhentikan secara tidak hormat oleh Polri.
Dalam keilmuan psikologi, bunuh diri disebabkan oleh kombinasi faktor dan motivasi seseorang yang saling berkaitan satu sama lain, baik intrinsik maupun ekstrinsik. Faktor intrinsik merupakan faktor dari dalam yang mendorong atau memotivasi untuk melakukan bunuh diri seperti halnya Novia yang malu serta tertekan dengan keadaan dan ingin lari dari masalahnya. Sedangkan faktor ekstrinsik yaitu faktor yang timbul dari luar dan mendorong seseorang untuk melakukan bunuh diri. Begitu pula pada Novia yang mendapat tekanan dari circle yang toxic, baik dari keluarga besarnya sendiri maupun keluarganya si tersangka, Randy.
Dalam pandangan psikologi kognitif, pembuatan keputusan terjadi dalam situasi yang meminta seseorang harus membuat perkiraan ke depan, untuk memilih salah satu di antara beberapa pilihan mengenai frekuensi kejadian berdasarkan bukti-bukti yang terbatas. Namun tidak semua keputusan diambil dengan menggunakan pertimbangan yang sistematis, melainkan dengan menggunakan pendekatan heuristik.
Nah, dalam perespektif psikologi, bunuh diri disinyalir karena depresi yang mendalam, gangguan mental. E. Tory Hinggin dalam teorinya tentang diskrepansi diri menyatakan bahwa harga diri (self-esteem) seseorang ditentukan oleh adanya kesesuaian ketika ia melihat dirinya dan apa yang dia inginkan dari dirinya.
Setidaknya, dengan teori tersebut dapat menghantarkan sebuah konklusi bahwa orang yang melakukan bunuh diri karena menemukan ketidaksesuaian antara apa yang dia lihat dalam dirinya (idealitas) dengan apa yang dia inginkan (realitas) sehingga mengalami self-disorder (ketidaktertataan jiwa).
Ketika seseorang telah mencapai level ini, maka akan cenderung melakukan atau menujukkan berbagai ekspresi kejiwaan negatif, seperti malu, cemburu, marah, dendam, kecewa, bahkan bunuh diri.
Terakhir itu yang sudah dilakukan oleh Novia. Dia merasa kecewa dan memendam dendam dengan pacarnya Randy yang sudah menghamilinya dan menyuruhnya aborsi. Novia merasa malu dengan keluarga dan orang-orang sekitar sehingga ia nekat untuk mengakhiri hidupnya.
Ilustrasi: google
)*Mahasiswi Fakultas Psikologi Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa Yogyakarta









