“Sebodoh-bodohnya mahasiswa, andai kepalanya dibelah pasti ditemukan ukiran ‘agent of control’ dengan guratan yang sangat tegas.”
Seperti yang telah kita ketahui bersama, kampus merupakan candradimuka yang menggembleng mahluk yang digadang-gadang sebagai agent of control, sebuah julukan yang hampir selalu diutarakan di setiap kegiatan kampus, oleh karenanya sebodoh-bodohnya mahasiswa, andai kepalanya dibelah pasti tetap ditemukan isi berupa ukiran “agent of control” dengan guratan yang sangat tegas.
Namun kampus tidak bisa disebut kampus kalau stakeholder-nya pincang. Pertanyaannya, apa itu stakeholder? Seharusnya kamu tahu kan? Jadi aku tidak perlu repot menjelaskan. Ya kalau tidak tahu kebangetan sih. Katanya intelektual tulen, masa pengetahuan sereceh ini saja absen dari kepalamu. Ya sudah begini saja, ibarat mie ayam, ia bakal bisa disebut mie ayam kalau ada: mangkuk, mie, daging ayam cincang, bumbu, kuah, penjual, dan pembeli. Satuan-satuan yang penting itulah yang disebut sebagai stakeholder.
Begitu mie ayam, begitu pula kampus. Institusi pendidikan ini terdiri dari ‘abcd’ stakeholder yang cukup banyak. Seperti mahasiswa, dosen, staf administrasi, pimpinan birokrasi, alumni dan yang lainnya, silahkan googling sendiri! Namun patut disayangkan penjelasan mengenai siapa-siapa dalam stakeholder kampus ini selalu tidak lengkap. Ibarat ketoprak yang kerupuknya ketinggalan. Entah dalam sesi pematerian pengenalan kampus atau artikel perkampusan yang bergulir di internet selalu meninggalkan penjelasan yang tidak sempurna. Sebab ada sosok agung yang tidak dicatut dalam jajaran stakeholder kampus. Ia adalah A B A N G – A B A N G A N kampus. Sang penyeimbang ekosistem kampus.
Pertanyaannya, siapakah abang-abangan kampus? Ini adalah pertanyaan mendasar sekaligus bertaraf tinggi. Setara dengan pertanyaan “siapakah aku?” yang jawabannya dijelaskan dengan mengutip buku self improvement yang kelewat populer seperti buku Filosofi Teras atau Atomic Habit. Oke, karena penjelasan mengenai abang-abangan ini masih sulit ditemukan, maka aku berkenan memberikan penerangan. Abang-abangan adalah perwujudan konkret insan kamil Muhammad Iqbal alias sosok super sok mantap yang berada di ruang-ruang kampus. Keberadaanya itu sangat adil. Dalam artian semua ruang di kampus itu ada abang-abangannya. Di kelas? ada. Di organisasi intra kampus? Ada. Di organisasi mahasiswa ekstra kampus (ORMEK)? Ada dan berlipat ganda (baca: sarang).
Abang-abangan adalah entitas penting yang tidak penting-penting amat tapi penting. Karena ia adalah kunci keharmonisan kampus. Layaknya ultraman yang menjaga kedamaian dan ketentraman di bumi. Bedanya, ultraman itu fiksi dan abang-abangan itu non-fiksi. Keberadaannya sangat nyata dan terasa di dalam hati. Pantaslah ia disebut sebagai orang penting yang menempati kursi stakeholder.
Oleh karenanya atas dasar demikian, rasanya perlu ada panduan untuk menjadi abang-abangan kampus. Supaya bisa menjadi abang-abangan secara utuh, holistik, dan tidak melenceng dari relnya. Namun dalam panduan ini, aku persempit lokusnya di ranah abang-abangan organisasi mahasiswa ekstra—selanjutnya disebut ormek. Sebab, abang-abangan ormek itu “ngabang-ngabangan” banget. Apa lagi kalau sudah bertutur perihal nilai ideologis, bikin Nabi Isa kepingin tukar posisi karena minder. Bukankah kita gemar menjadi orang penting?
“Ultraman itu fiksi, tapi abang-abangan itu non-fiksi. Keberadaannya sangat nyata dan terasa di dalam hati.”
Berikut adalah panduan ringkas untuk menjadi abang-abangan ormek.
Gabung ke Ormek! Kalau Bisa yang Berlandaskan Ajaran Islam
Sudah barang tentu, jika mau menjadi abang-abangan ormek, mesti memasuki gelanggang utamanya terlebih dahulu. Caranya mudah saja. Biasanya, saat musim penyambutan mahasiswa baru, mereka akan membuka “konter” di area fakultas masing-masing. Tentu konter di sini cuma kiasan belaka. Sebab mereka tidak betul-betul menggunakan kontainer both seperti yang banyak di temukan di tepi jalan. Tapi meski demikian, aktivitas jualannya mirip-mirip dengan pedagang tulen. Suwer!
Mereka akan menjajakan nilai yang mereka sendiri tidak mengerti maksudnya dan dilingkupi aksesoris tumpukan buku yang dibuka pun tidak, apalagi dibaca. Kecuali sekadar pose membuka buku dan memasang ekspresi serius bin dahsyat untuk keperluan dokumentasi dan promosi. Lalu, biasanya akan dipajang spanduk atau bendera organisasi terkait seperti kapal bajak laut Jolly Roger yang siap merampas mangsanya. Sebagai informasi tambahan, kamu tidak perlu heran kalau melihat mereka seperti orang kehausan. Sebab kegiatan buka “konter” berikut rangkaiannya—entah kenapa—adalah satu-satunya program yang dilaksanakan dengan serius dan semangat yang berapi-api. Sisa program yang lain dan yang lebih penting dipasrahkan kepada Allah subhanahu wa ta’ala.
Jika kamu sudah melihat pemandangan tersebut, hampirilah mereka dengan sikap yang penuh rendah hati, sopan, dan penuh santun. Jangan coba-coba terlihat lebih pintar! Nanti mereka tersinggung, tenang ada masanya kamu bisa menunjukan pengetahuan yang seluas kuku jempol kakimu. Dengarkanlah kisah, nilai, tujuan serta manfaat organisasi yang gitu-gitu saja itu dengan penuh khidmat. Mungkin kamu akan menangkap kesan ‘sok asik’ dari mereka. Tenang, karena aslinya memang begitu. Ikuti saja alurnya. Oh iya, jangan lupa menyiapkan sejumlah uang untuk keperluan administrasi dan operasional kegiatan. Sebab perjuangan juga perlu ongkos dan yakinlah uangmu akan digantikan dengan sesuatu yang tidak dapat ditakar oleh uang.
Kalau boleh saran, masuklah ke ormek islam—apa lagi kalau kamu adalah seorang muslim, sebab ormek islam itu merupakan mayoritas di kalangan kampus. Bukankah makin bergengsi kalau menjadi abang-abangan dari ormek mayoritas? Kalau kamu kesulitan mencari ormek islam, cari saja yang ada huruf “i”-nya dalam singkatan organisasi mereka. Tapi bukan berarti kamu sembarangan masuk ke PMI, sudah lain urusan itu. Kecuali kalau “i”-nya ada dua. Mungkin kamu bisa langsung segera salat istikharah!
“Belajar itu tidak hanya di ruang-ruang kelas — tapi di kafe bersama abang-abangan.”
Amati dan Pelajari Senior-Senior yang Sok Mantap itu!
Belum, di sini kamu belum bisa mempraktikkan laku abang-abangan. Kamu perlu mengetahui dan bersabar bahwa untuk menuju tingkat abang-abangan itu harus melalui proses yang panjang dan dramatis. Gambaran hierarki kasarnya kurang lebih begini: anggota medioker – anggota premium- pengurus – abang-abangan (anggota super premium). Sekurang-kurangnya, proses menjadi abang-abangan itu memakan waktu sebanyak 2 tahun. Sebenarnya, andai kamu kebelet menjadi abang-abangan, kamu bisa melakukannya saat berada di tingkat anggota premium (tingkatan paling minimum untuk menjadi abang-abangan). Namun itu terlalu terburu-buru dan sesuatu yang terburu-buru itu tidak baik. Lagi pula, kalau menjadi abang-abangan di taraf minimum itu akan dikangkangi dan direcoki oleh abang-abangan di tingkat puncak. Ingat, di atas abang-abangan masih ada abang-abangan.
Sehubungan dengan perjalananan yang membentang begitu panjang, gunakan waktu dan tenagamu untuk mempelajari perilaku abang-abangan di ormek. Ayo! Jangan malas! Walaupun kemalasan membuncah di dalam jiwamu, hadapi dan hormati abang-abanganmu! Kesampingkan baca literasi yang mampu mendongkrak isi kepala. Sebab ini bukan kebutuhan primer. Ayo! Tidak ada perjalanan yang mudah. Akan selalu ada aral yang melintang dan itu adalah abang-abanganmu sendiri. Pada tahap ini memang akan banyak menguras sesuatu dari dirimu: tenaga, waktu, dan kuliah yang keteteran. Tapi semua itu tidak seberapa. Karena ini adalah upaya untuk menempuh satu tujuan yang mulia. Hanya satu dan satu-satunya. Yakni meneladani kemuliaan abang-abangan ormek.
Seluruh inderamu harus jeli terhadap setiap gerak-gerik abang-abangan. Ini adalah kesempatan emas yang hampir tak mungkin kamu dapatkan selain di ormek. Sebab kamu akan mengamati, mempelajari, dan menganalisis pelaku sejarah secara langsung. Bukankah ini adalah pengalaman yang sungguh spektakuler? Dan bukankah pengalaman adalah guru terbaik dalam rangkaian hidupmu? Abang-abangan adalah patron yang setiap suri tauladannya mesti dicatat di buku dan catatan itu kelak akan berguna di masa depan tatkala kamu menjadi abang-abangan.
Tapi abang-abangan juga manusia dan manusia adalah tempatnya salah dan lupa. Meski kamu telah mengarsipkan seluruh habitus abang-abangan, tidak semuanya bisa kamu aktualisasikan. Kamu harus mengkurasinya dengan ketat. Paling tidak, aku bisa memberikan satu kisi-kisi mengenai sikap dan perilaku abang-abangan yang sangat patut diberikan jempol terbalik. Perilaku gembel itu adalah “ketidakadilan” abang-abangan. Mereka yang demikian adalah abang-abangan yang bias visual. Mereka hanya berperilaku abang-abangan secara maksimal kepada mereka yang tampan atau yang cantik. Namun, perilaku ini lebih sering ditujukan kepada yang cantik-cantik dan pelakunya adalah abang-abangan yang berpenis.
Abang-abangan yang memiliki tingkah di atas adalah senajis-najisnya abang-abangan. Jika kamu mendapati abang-abang yang seperti itu, coret namanya dari buku catatanmu dan luncurkan ludahmu tepat di mukanya. Abang-abangan seperti itu tidak layak diteladani dan menodai citra baik abang-abangan. Ikhtisar dari poin kedua ini adalah ambil yang jelek, buang yang najis. Nikmati dan hayati fase ini. Kesempatan tidak datang dua kali, karena ia datang tiga kali. Selamat berproses! Selanjutnya kita akan memasuki aktualisasi perilaku abang-abangan yang eksklusif.
“Di atas abang-abangan masih ada abang-abangan. Ambil yang jelek, buang yang najis.”
Hindari Terlalu Akrab dengan Adik Tingkat, Bahaya!
Akhirnya, setelah mencapai titik yang satu dan yang lainnya, tiba juga saat menjadi anggota super premium alias abang-abangan. Langkah pertama dan perlu dipertahankan seumur hidup menjadi abang-abangan adalah: “tidak terlalu akrab dengan adik tingkat”. Karena abang-abangan yang akrab dengan adik kelas adalah sebuah penistaan. Ingat dirimu yang sekarang bukan lagi anggota premium apa lagi medioker. Kamu yang sekarang adalah abang-abangan tingkat tinggi. Abang-abangan itu adalah simbol kemewahan dan sesuatu yang mewah itu tidak bisa disentuh oleh sembarang orang—dalam kasus ini ialah adik tingkat. Ekslusivitas abang-abangan itu mesti dijaga dengan hanya bergaul sesama abang-abangan.
Pantang bagi abang-abangan untuk kenal dengan adik tingkat. Abang-abang itu dikenal, bukan mengenal. Sekalipun kenal karena ada kebutuhan interaksi organisasi, kamu harus segera menghapus nama dan wajahnya dari ingatanmu. Ini demi kemaslahatan harga diri abang-abanganmu yang sudah dimulai, dieksplorasi, dan dikembangkan. Kamu harus menahan hasratmu untuk bergaul dengan adik tingkat. Setidaknya ini akan memberikanmu dua keuntungan: Pertama, marwah kamu tidak terdistorsi, dan kedua, ini yang paling penting, kebodohanmu tidak terdeteksi oleh bawahanmu.
Ketika kamu sudah menjadi abang-abangan, kamu akan disowani oleh junior. Biasanya mereka akan meminta pandangan, pendapat, dan masukan dari dirimu. Nah salah satu kekhasan abang-abangan saat ngopi dengan juniornya adalah gemar mengajukan pertanyaan berikut:
- Siapa namanya?
- Prodi apa?
- Angkatan berapa?
Lalu, setelah kamu mendapat jawaban atas pertanyaanmu, lanjutkan dengan mengangguk-nganggukkan kepala dan ucapkan,”Wah, ternyata saya sudah tua sekali ya!”, supaya mereka paham dan menundukkan kepala, kalau dirimu adalah dedengkot organisasi yang pantas berjejer dengan tomas (tokoh masyarakat).
Dan di saat kamu vis a vis dengan junior yang meminta kebijakan darimu, ada gerakan tambahan yang perlu kamu lakukan, namun gerakan tambahan ini hanya bisa dipraktikan kalau kamu adalah pengisap tembakau. Kelebihannya adalah: menambah aura dan memberikan jeda untuk berpikir meskipun kamu tidak memikirkan apa-apa. Detail gerakannya itu begini:
- Saat mereka bertanya mengenai pendapat, jangan buru-buru langsung dijawab. Diam sejenak. Tatap mata penanya dengan wajar tapi dalam dan tajam. Pastikan rokok terjepit di salah satu tanganmu (bebas, kanan atau kiri).
- Isap rokokmu dalam-dalam dengan ekspresi yang begitu menikmati bakaran nikotinmu. Supaya lebih mantap, tolehkan kepalamu agak menyerong ke atas dengan mata terpejam. Ini akan menambahkan kesan badas dan ganas.
- Semburkan asap rokokmu ke udara dengan perlahan, lembut, dan dingin tapi tidak kejam. Tampilkan wajahmu yang begitu relaks tapi tidak perlu sok ganteng atau sok cantik.
- Jawab pertanyaan juniormu layaknya Sokrates yang memberikan pengajaran di teras rumah.
Gerakan tambahan ini termasuk metodologi sigma abang-abangan saat berhadap-hadapan dengan adik tingkat. Menampilkan kemewahan dan kedalaman seorang abang-abangan yang mampu bikin adik tingkat tercenung. Sebuah teknik yang sungguh kharismatik. Teknik yang melebarkan jarak antara abang-abangan dan adik tingkat.
Mungkin ada saatnya kamu terpesona dengan kecerdasan adik tingkat bagaikan cendekiawan. Kamu dibuat merem-melek dengan setiap pengetahuan yang keluar dari mulut adik tingkatmu yang layaknya kluster ilmu. Ini tidak apa-apa, artinya kamu tidak tolol-tolol amat. Sebab sadar atas kegoblokan menumpuk di dalam diri sendiri itu merupakan sesuatu yang jempolan. Namun yang bahaya dari fenomena ini adalah, bila mana kamu goyah atas diri kamu sendiri atau—bahasa bekennya—insecure atas kapasitas keilmuanmu yang cetek.
Kagum atas kecerdasan adik tingkat itu boleh. Tapi insecure atas kebodohan diri sendiri itu hukumnya pantang. Jadilah tolol yang secure! Caranya adalah dengan membentuk keyakinan di dalam hati: bahwa angkatan yang baru-baru itu kosong isi, cuma kebanyakan gaya, dan andaipun semua orang pintar angkatan di bawahmu itu digabung, ya kamu jelas tidak ada apa-apanya. Makanya di sinilah pentingnya fungsi keyakinan. Karena keyakinan itu sifatnya buta. Keyakinan itu bisa menyingkirkan kebenaran yang betul-betul benar. Inilah kedahsyatan keyakinan. Kalau kamu yakin kamu lebih cendikiawan dari mereka, maka selesai sudah mereka yang betul-betul pintar itu.
Ingat tulisan di pantat truk: jaga jarak aman!
“Sebab sadar atas kegoblokan menumpuk di dalam diri sendiri itu merupakan sesuatu yang jempolan. Jadilah goblok yang secure!”
Rendahkan Mereka yang Rajin Kuliah! Kayak Kurang Kerjaan Saja
Ada peraturan tidak tertulis namun sakral di kalangan abang-abangan. Peraturan itu berbunyi: Lulus itu bukan soal tepat waktu, namun soal di waktu yang tepat. Ibarat pasang pendingin ruangan di antartika: dingin banget bang! Filosofi abang-abangan ini memang bukan kaleng-kaleng. Kelulusan bukan perihal cepat atau lambat, tetapi urusan lambat saja, tidak perlu cepat-cepat. Mengerjakan skripsi, sidang, dan wisuda adalah kebebasan untuk menentukan diri sendiri. Ini adalah prinsip mulia seratus karatan!
Lulus tepat waktu adalah penghinaan terhadap kaum abang-abangan. Menghadapi final bos akademik kampus secara terburu-buru hanya menunjukan mereka adalah subjek yang kurang kerjaan. Lain halnya dengan abang-abangan kampus yang bergerilya mengurusi ormek walaupun kelihatannya jarang datang saat kegiatan. Sekalipun ada, paling-paling datangnya terlambat dan pulang duluan dengan alasan yang kurang jelas terdengar kecuali, “izin geser dulu, ada agenda lain”. Mirip seperti judul Sheila on 7, “Kisah Klasik Abang-Abangan”.
Begitulah abang-abangan. Ada saat dibutuhkan, ada saat tidak dibutuhkan. Memang ada melulu walaupun kadang tidak berguna. Sebagai abang-abangan, kamu adalah patron bagi anggota medioker dan premium di dalam ormek. Patron adalah pemberi suri tauladan. Bilamana ada kekeliruan, maka harus segera diluruskan. Jika ada adik tingkat—baik medioker atau premium—yang kerajinan masuk kelas, harus segera dicibir dengan tegas! Karena rutin masuk kelas memperbesar kemungkinan untuk lulus dengan tepat waktu dan ini sangat menyalahi visi, misi, sekaligus filosofi abang-abangan.
Katakan kepada mereka, bahwa masuk kampus adalah urusan nomor empat. Nomor satu, organisasi. Nomor dua, organisasi. Nomor tiga, organisasi. Nomor empat, masuk kampus. Nomor 5, organisasi lagi. Ini menandaskan bahwa organisasi itu melampaui kampus dari segala sudut. Terlalu banyak urusan organisasi untuk ditinggal hanya karena sekadar ingin memenuhi kewajiban yang utama. Kamu selaku abang-abangan harus bisa mengatasi fenomena haus belajar di kelas. Sebagai suri tauladan, kamu harus memberikan air kesejukan yang menimbulkan galgah di kerongkongan mereka.
Gunakan metode “jika-maka” untuk menghambat kelulusan mereka:
- Jika kamu mendapatkan informasi mengenai juniormu yang rajin, maka berikan dia cibiran yang menohok dan penuh gaslighting. Contoh: “Oh, kamu sekarang lebih mentingin kampus dibanding organisasi?”
- Jika kamu melihat juniormu hendak berangkat ke kampus, tarik dia ke kafe.
- Jika kamu mengetahui juniormu sedang di kelas, suruh dia pulang dan pergi menghampirimu di kafe.
Saat kamu sedang “membersamai” junior organisasimu ngopi, berilah dia semacam penerangan-penerangan yang mampu membuka perspektif baru soal belajar sehingga bikin mulut junior-juniormu itu tercengang. Bahwa belajar itu tidak hanya di ruang-ruang kelas. Proses menggali ilmu itu sangat mungkin terjadi di luar kelas. Terangkan soal dinamika kelas yang sama sekali tidak dinamis. Turut sertakan contohnya pula semua mereka begitu yakin sampai mengangguk-angguk kepala. Seperti: dosen yang malas mengajar sehingga menyuruh mahasiswanya presentasi, mekanisme belajar yang lembam, dan teman kelas non-ormek yang dianggap tolol karena tidak mengikuti ormek.
Jika kamu, selaku abang-abangan, ditanya “bagaimana caranya?”, maka ada dua bentuk respon. Pertama, jika kamu cukup percaya diri untuk memberikan jawaban, maka jawablah dengan arahan membaca buku-buku di luar mata kuliah. Tegaskan betapa penting dan bermanfaatnya baca buku dengan panjang kali lebar dan bertele-tele. Kalau dirasa target terlihat bosan—apalagi kalau mulutnya sudah mangap disertai pandangan kosong—selipkan kisah kasih masa-masa muda kamu saat ada di posisi mereka, pastikan bombastis.
Tidak menutup kemungkinan mereka akan minta rekomendasi buku kepada dirimu. Berhubung kamu tidak baca buku, maka pasti kamu akan kelabakan ditodong pertanyaan yang menjengkelkan itu. Tapi paling tidak, kamu ingat rekomendasi bacaan buku dari abang-abang pendahulu. Tinggal oper saja judul bukunya ke mereka—ini namanya estafet abang-abangan. Buat jaga-jaga, kalau nanti kamu ditanya isinya apa, jawab saja “Mau tahu? Ya dibaca dong. Nanti juga tahu”. Ini merupakan upaya menghindar dengan elegan. Sebab kamu mana tahu isi bukunya, baca saja tidak.
Lalu kamu perintahkan mereka menghabiskan buku itu dalam seminggu dua minggu. Lalu suruh mereka untuk mempresentasikan apa yang mereka dapat dan pahami dari buku yang mereka baca kepada dirimu. Perhatikan dan simak dia dengan serius sambil mengernyitkan dahi selama mereka komat-kamit. Karena ini adalah momentum kamu untuk memahami isi buku tanpa harus membacanya. Teknik ini dinamakan “akal-akalan abang-abangan tidak berakal”.
Kedua, jika kamu tidak percaya diri untuk memberikan jawaban, maka lempar saja jawabannya ke orang lain. Namun kendati demikian, kamu mesti melihat situasinya terlebih dahulu. Jika yang bertanya adalah anggota non-pengurus, maka suruh mereka menodong pengurus untuk dibuatkan agenda belajar di luar ruang kelas. Jika yang bertanya adalah pengurus, maka tunjuk mereka dengan jari telunjukmu dan suruh mereka bikin kegiatan bermanfaat selain open recruitment.
Kalau kamu diminta rekomendasi kegiatan, kamu bisa memasang tameng dengan ujaran “masa saya harus turun tangan sih”, ini juga termasuk upaya menghindar dengan elegan. Demi menjaga ketololanmu terdeteksi oleh junior. Atau supaya makin terlihat sepuh dan berpengalaman, tambahkan nominal angkatan dalam tutur ucapanmu. Misal, “Masa saya yang angkatan 45 harus turun tangan, kejauhan lah”.
Bagaimana mudahkan? Prinsipnya sederhana saja. Bilamana ada yang lurus-lurus (baca: rajin kuliah), maka kamu sebagai abang-abangan pemberi suri tauladan, sudah menjadi kewajiban bagimu untuk membengkokkan itu. “Karena lulus tepat waktu hanya untuk mereka yang lemah,” ujar abang-abangan semester 14, andai abang-abangan ditemukan oleh arkeolog, dijamin 100% mereka disebut sebagai prasasti kampus dan kamu bakal menjadi salah satunya. Berbanggalah! Terhormatlah!
“Filosofi abang-abangan ini memang bukan kaleng-kaleng. Kelulusan bukan perihal cepat atau lambat, tetapi urusan lambat saja, tidak perlu cepat-cepat.”
Carilah Kesalahan dan Teruslah Merasa Benar!
Menurut Thomas Kuhn, pengetahuan supaya kebenarannya bisa dipercaya itu mesti melalui serangkaian tahapan revolusi paradigma, yakni: pra-sains – sains normal – anomali – krisis – revolusi sains. Ini Thomas Kuhn, lain dengan abang-abangan. Bagi yang disebut belakangan, kebenaran tidak perlu melalui rangkaian proses yang rumit. Cukup dengan mencapai status abang-abangan, maka semua yang keluar dari sana bersifat menerangkan. Bagai matahari yang menendang kegelapan tepat di pantatnya. Abang-abangan adalah kegelapannya.
Poin yang disebut terakhir ini adalah puncak kelakuan abang-abangan yang harus kamu supremasi. Oleh karena itu tidak berlebihan, jika poin “mencari kesalahan dan terus merasa benar” merupakan alas dari semua kelakuan abang-abangan yang telah diuraikan di uraian sebelumnya. Untuk menerapkan perilaku ini kamu tidak perlu benar. Sebab antara benar dan merasa benar adalah perkara yang sama sekali berbeda dan berdiri secara terpisah. Sekosong apapun pengetahuanmu, sejelek apapun penalaranmu, seretoris apapun pembicaraanmu, tidak perlu ragu dan sungkan untuk merasa benar. Percaya diri dalam situasi apa pun adalah kunci menjadi abang-abangan yang kaffah.
Sehubungan dengan itu, maka dalam momentum apapun kamu dengan adik tingkat organisasi—khususnya kepada anggota premium (baca: pengurus), kamu harus jeli untuk menemukan dan mengoreksi kesalahan meskipun sebesar biji zarah. Ini penting. Sebagai abang-abangan kamu harus punya indera yang melampaui ruang dan waktu. Bukan karena apa. Ini semua demi kebaikan bersama. Untuk kemaslahatan organisasi yang tercinta, terkasih, dan—kadang—terabaikan. Namun kamu tidak boleh sembarangan menegur para pengurus yang anggota aktifnya itu tidak lebih dari sepuluh jari. Jangan lupa, kamu adalah abang-abangan, dan abang-abangan selalu memiliki sentuhan yang spesial.
“Sekosong apapun pengetahuanmu, sejelek apapun penalaranmu, seretoris apapun pembicaraanmu, tidak perlu ragu dan sungkan untuk merasa benar.”
Begini yang spesial-spesial itu:
- Bila kamu mendapatkan kesalahan, jangan langsung ditegur. Goreng-goreng terlebih dahulu sampai sepanas pantat panci yang dijilat api kompor. Sodorkan responmu dengan nuansa intimidatif. Contoh, “oh begini kerjaan pengurus”. Jangan mau sendiri. Ajaklah kolega abangan-abangan yang lain. Contoh, “Gimana ini Pak Ahmed, masa kayak gini dibilang sudah aman?”. Semakin keroyokan, semakin seru.
- Baru setelah itu, kamu boleh untuk mengoreksi kesalahan mereka, tapi tetap jangan secara jelas (to the point). Pertahankan nuansa ofensif dan intimidatif dengan cara sarkas yang dipadu dengan satire. Biarkan mereka mengetahui secara mandiri salahnya di mana. Contoh, “Aku tidak tahu ini aku yang bodoh atau gimana, tapi kalau kalian sudah oke, gapapa lah.” atau “ dibanding poster, ini kok lebih mirip stiker sedot wc ya? atau aku yang salah liat?”
- Terakhir, setelah mereka menemukan kesalahan dan mengatakan “mohon maaf atas kesalahannya. Akan segera kami perbaiki. Terima kasih atas masukannya, mas, mba,” dengan tulus, sampaikan kepada mereka, kalau kamu tidak ada maksud untuk memojokkan, menyudutkan, dan mengintimidasi. Katakan pula, semua yang kamu ucapkan adalah bentuk kepedulian kamu sebagai abang-abangan yang baik dan bijaksana.
Semisal, kamu tidak menemukan kesalahan mereka walaupun sebesar biji zarah, maka kamu tidak perlu bikin-bikin kesalahan, karena cuma membikin kamu kelihatan bodoh walaupun memang sebenarnya demikian. Dan kamu tidak perlu mengapresiasi kinerja mereka. Karena itu adalah bentuk kewajiban mereka sebagai pengurus, bukan bentuk kebaikan yang dilakukan secara sukarela. Selain merupakan bentuk kewajiban, mengapresiasi akan melunturkan harga dirimu sebagai abang-abangan. Kembali lagi, pada prinsipnya, abang-abangan hanya akan mengakui sesama abang-abangan atau yang derajatnya lebih tinggi—biasanya merupakan abang-abangan yang sudah bekerja di tempat yang cukup mapan dan kemurahan hati mereka sering kali diharapkan untuk kemakmuran organisasi.
Tamat sudah poin-poin praktis untuk menjadi salah satu stakeholder kampus yang keberadaanya tidak bisa diabaikan karena nongol melulu. Selalu ada di mana-mana dan berlipat ganda. Panduan ini sangat cocok untuk kamu yang gila hormat tanpa harus memiliki kapasitas yang mantap untuk dihormati, mau kelihatan pintar meskipun kandungan goblok di kepalamu sangat organik, serta untuk kamu yang terlalu malas untuk berbenah diri, tidak punya kerjaan, performatif skala dewa, selera humor yang garing kriuk, kaleng kerupuk tanpa isi, sok asik mampus, sok mantap, sok paling oke sehingga kamu memutuskan untuk menjadi abang-abangan.










3 Komentar
Siiipppp ini biar pada kerja abang abangannya ahaha
Harus di baca abang abangan biar pada kerja abang abangannya dan lebih bermanfaat
Hello there, I discovered your site by way of Google even as looking for a similar matter,
your web site got here up, it seems to be good. I have bookmarked it in my google bookmarks.
Hi there, just become aware of your weblog via Google,
and found that it’s truly informative. I’m gonna be careful
for brussels. I’ll be grateful if you happen to continue this
in future. Numerous other folks shall be benefited out of your writing.
Cheers!