Oleh: Habiburrahman Misbahudin
Apa yang kalian pikirkan ketika pertama kali melihat seorang punkers? apakah anak haram? Pemabuk? Tidak punya sopan santun? pecandu narkoba? Aneh? Alien? Buruk rupa? Difabel? Remaja berusia sekitar 14 sampai 18 tahun dengan rambut yang warna-warni, memakai tindik di hidung, telinga dan lidahnya, minum alkohol ditempat umum, tubuh penuh dengan tattoo, pembuat onar dan hal-hal aneh lainnya.
Dari banyaknya remaja yang berpenampilan punk, masyarakat awam pasti menilai mereka tidak jauh dari hal-hal negatif, kotor, alkohol, narkoba, seks bebas. Ketika ditarik jauh ke belakang lagi, ketika punk pertama kali lahir, bukan hal seperti itu yang menjadi ciri khas punkers. Masyarakat awam hanya melihat luarnya saja bahwa punk tersebut merupakan hal negatif, bahkan sebagian orang yang mengaku menjadi punkers juga tidak mengetahui bagaimana punkers sebenarnya. Mereka menjadikan punk hanya untuk fashion dan genre musik yang penuh dengan kecaman, hal ini yang mendukung perspektif masyarakat bahwa punkers adalah manusia buruk.
Punk lahir sekitar lima puluh tahun yang lalu, berawal dari generasi amerika dan inggris yang berkembang menjadi variasi di berbagai dunia secara positif dan negatif (tergantung pelaku). Punk sendiri adalah perilaku yang lahir dari sifat melawan, tidak puas hati, melawan dan benci pada sesuatu yang diletakkan tidak pada tempatnya terutama pada suatu hal yang menindas seperti sosial, ekonomi, politik, budaya, bahkan agama.
Mereka memiliki pemikiran sendiri untuk melawan adanya penindasan, apalagi atas adanya penindasan hak-hak kemanusiaan. Terutama pada sistem ekonomi politik yang diterapkan oleh pemerintah sehingga menyebabkan pengangguran dan krisis moral. Dalam pemberontakan tersebut mereka menciptakan perlawanan dengan realisasi music, gaya hidup, komunitas, dan kebudayaan sendiri.
Jika dilihat dari sejarah awal munculnya gerakan ini, kata “punk” pertama kali muncul pada tahun 1970 di majalah yang ditulis oleh Nick Tosches berjudul The Punk Muse: The True Story of Protophatic Spiff Including The Lowdown on The Trouble- Making Five-Percent of America’s Youth. Pada saat itu juga banyak bermunculan music underground sebagai bentuk kebosanan dan kegelisahan generasi muda Amerika kalangan menengah kebawah.
Mereka bosan dan gelisah dengan adanya resesi ekonomi yang sangat parah di Amerika sejak tahun 1970-an yakni krisis moneter, yang kemudian diikuti dengan kemerosotan moral para tokoh politik, perang Vietnam, dan kegagalan Reagonomic (kebijakan ekonomi presidan Ronald Reagan). Hal tersebut menjadi penyebab hilangnya kepercayaan masyarakat pada pemerintah dan kesulitan dalam perekonomian yang sangat dirasakan oleh masyarakat menengah kebawah. Dari kondisi seperti itu, masyarakat menciptakan sebuah identitas untuk bersuara.
Pada dasarnya punk tersebut ingin membuktikan bahwa manusia dengan rasio yang dimiliki mampu untuk membedakan baik dan buruk untuk diri mereka. Dalam gerakan ini punkers menginginkan adanya hak-hak mereka sebagai manusia seutuhnya, hal tersebut bisa dikatakan sebagai gerakan humanisme. Dalam hal ini, Mario Bunge (2006,16) berpendat bahwa adanya dua pembagian humanisme yakni humanism sekular (melihat manusia dan masyarakat atas dasar humanism) dan humanism religious (melihat manusia dan masyarakat berdasarkan nilai moral atau etika sebagaimana yang ada pada agama.
Kedua hal tersebut saling berbeda dalam memandang adanya dunia, namun dalam gerakan yang dilakukan oleh punkers sejak awal muncul hingga sekarang banyak ditemui humanisme secara sekular sekaligus humanisme secara religius.
Dalam perkembangannya, humanism sekular telah dinyatakan gagal dalam mengatasi sebuah masalah kemanusiaan. Pasalnya dari gerakan yang dilakukan oleh humanism sekular, malah menimbulkan turunnya nilai moral yang seharusnya dimiliki oleh manusia. Seperti halnya yang dilakukan oleh punkers ketika baru muncul, mereka memberontak atas apa yang mereka anggap sebagai sebuah keselahan.
Sejalan dengan berkembangnya zaman, mereka tidak terlalu peduli kepada nilai moral yang sangat penting dalam kehidupan, agaknya mereka menciptakan perlawanan yang malah berpengeruh buruk bagi masyarakat luas. Sebagian punkers malah sering membuat onar, minum alcohol di tempat umum sehingga mereka merugikan masyarakat dari kalangan mereka sendiri.
Pada saat itulah, humanism religious muncul dan agaknya semakin popular, dengan perlawana yang mereka miliki, mereka juga memperhatikan adanya nilai moral dlam kehidupan. Di Indonesia sendiri terdapat punkers yang tetap memiliki dua hal tersebut yakni perlawanan dan nilai moral. Bukti adanya kelompok tersebut terdapat pada pondok Tasawuf Underground, pondok ini dibentuk oleh Halim Ambiya yang mempunyai tujuan utama untuk membimbing kaum marginal agar dapat Kembali kepada nilai-nilai spiritual. Tidak hanya itu, pondok ini juga dibentuk agar kaum marginal dapat diterima Kembali oleh masyarakat dan menghapus stigma masyarakat yang agaknya keliru tentang punkers.
Namun tidak bisa dipastikan bahwa dengan kedua gerakan tersebut dapat menyelesaikan masalah-masalah kemanusiaan secara utuh. Karena manusia bukanlah makhluk yang sempurna, dalam hal apapun manusia pasti memiliki kekurangan didalamnya. Tapi bukan tidak penting untuk bersuara membela kebaikan dan kebenaran, setidaknya sebagai manusia tidak lupa dengan kemanusiaannya.









