“Senja sudah berlalu, tetapi entah mengapa, aku masih saja terpukau. Oh, wajar saja. Wajahmu kan masih mengisi pandanganku sekarang.”
Di era digital seperti sekarang ini, banyak sekali ditemukan contoh-contoh sastra cyber —jenis sastra yang memanfaatkan media komputer atau internet— seperti di atas. Fenomena sastra cyber sendiri sejatinya telah mulai dikenal sejak akhir tahun 90-an. Namun, menurut hemat saya, salah satu jenis sastra ini kini semakin mengalami perkembangan yang begitu pesat dan bercabang ke banyak penjuru.
Hal tersebut terjadi bukan tanpa alasan. Sebab, kiwari ini, banyak sekali anak-anak muda yang mencoba untuk mencurahkan isi hatinya melalui puisi atau sajak-sajak puitis, atau mungkin lebih tepatnya, romantis, di beragam timeline media sosial. Saya mengatakan hal tersebut karena sesungguhnya definisi puitis setiap orang tentu berbeda-beda. Akan tetapi, bila kita merujuk pada KBBI, maka puitis memiliki makna “bersifat puisi”. Sementara itu, menurut pendapat saya pribadi, pengertian setiap orang mengenai “romantis” mungkin akan kurang-lebih sama, atau setidaknya tidak “seluas” puitis.
Ada orang yang menganggap bahwa senja itu mampu mengantarkan kerinduan; ada pula yang menganggapnya sekadar matahari yang hendak terbenam. Ada orang yang menganggap kopi sebagai obat paling manjur untuk meredakan sakit hati; ada pula yang menganggapnya tidak lebih dari sekadar minuman penghilang kantuk. Ada orang yang menganggap bahwa kenangan merupakan sesuatu yang mustahil dilupakan; ada pula yang menganggap bahwa kenangan memang pada dasarnya tidak perlu diungkit-ungkit lagi.
Inilah yang saya maksud dengan keragaman definisi “puitis” dari setiap individu. Namun, bila kita sedang berselancar di Instagram, Tik Tok, YouTube, ataupun Twitter, seringkali melihat karya-karya sastra yang membahas mengenai tiga hal tersebut. Selain itu, kini semakin banyak pula musisi muda berlabel indie yang lagu-lagunya sering menyelipkan kata-kata seperti senja dan segala teman sepersekutuannya. Oleh karena itu, setidaknya kita dapat berasumsi bahwa mayoritas generasi muda menganggap bahwa senja, kopi, dan kenangan merupakan bentuk konkret dari “puitis”.
Perbedaan mengenai pengertian puitis tersebut merupakan sesuatu yang sah-sah saja, Kita tidak boleh pula menghakimi anak-anak muda yang senang bersajak dengan mengatakan bahwa mereka “tukang galau”, “budak cinta”, dan sebagainya. Setiap orang tentunya memiliki cara tersendiri untuk mengekspresikan diri. Bila mereka merasa bahwa dengan menulis kalimat-kalimat “galau”, mereka dapat merasa lebih baik, maka yang harus kita lakukan adalah membiarkan saja mereka melakukan hal tersebut. Lagipula, galau bukan merupakan sesuatu yang melanggar hukum, bukan?
Bahkan, mungkin kita sering tidak sadar bahwa sejatinya “kegalauan” memang merupakan sesuatu yang akan selalu hadir di kehidupan kita. Namun, perbedaannya terletak pada penyebab dari rasa galau tersebut. Bagi anak-anak, mungkin kegalauan mereka terjadi karena dilarang oleh orang tua mereka untuk mandi hujan atau membeli mainan yang sangat didambakan.
Bagi remaja, mungkin kegalauan disebabkan oleh tugas sekolah yang menumpuk, atau yang paling sering terjadi, karena cinta yang bertepuk sebelah tangan. Sementara itu, bagi para orang tua, kegalauan mungkin terjadi karena tagihan yang datang tanpa henti atau kalender yang semakin berjalan ke “tanggal tua”. Singkatnya, “galau” dan “manusia” merupakan sesuatu yang tidak dapat dipisahkan, tak peduli sekuat apa pun untuk menampiknya.
Fenomena sastra cyber yang semakin menggeliat ini memang membagi masyarakat ke dalam dua kubu: kubu yang pro dan kubu yang kontra. Ada yang berpendapat bahwa sastra cyber membuat koneksi antara penulis dan pembaca menjadi semakin dekat; penulis langsung bisa berinteraksi dengan para penikmat karyanya tanpa merasa ada jarak yang terbentang di antara mereka.
Akan tetapi, ada pula yang beranggapan bahwa penulis atau penyair yang bergerak di jalur ini sejatinya hanya merupakan orang-orang yang naskahnya ditolak oleh penerbit; yang tulisannya belum cukup layak untuk dijadikan buku dan dijualbelikan secara luas.
Sebagai penulis yang masih bergerak di sastra cyber, tentunya saya tergabung ke dalam kubu yang pro. Memang, ada bagian kecil di dalam hati saya yang merasa bahwa seorang penulis belum layak disebut “penulis” bila belum merilis buku.
Namun, pada akhirnya saya beranggapan bahwa kegiatan menulis tidak harus hanya dilakukan oleh orang-orang yang sudah resmi menyandang status sebagai penulis saja. Siapa pun berhak melakukan kegiatan tersebut. Siapa tahu saja ada orang asing di luar sana yang merasa bahwa tulisan-tulisan kita ternyata mampu “mewakilkan” perasaan mereka. Bagi saya, di sinilah kenikmatan sesungguhnya dari menulis atau membaca suatu karya sastra.
Ilustrasi: google









