Beranda / Seni dan Sastra / Kisah di Sebuah Halte Bus ~ Puisi Bintang Ramadhana Andyanto

Kisah di Sebuah Halte Bus ~ Puisi Bintang Ramadhana Andyanto

bus

Kisah di Sebuah Halte Bus

Sebuah bus datang menjemput

tatkala aku duduk di sebuah halte.

“Kami bersedia mengantar siapa saja

yang hendak melarikan diri dari rumah,” kata Pak Sopir.

Aku duduk saja.

Mau jadi apa aku kalau pergi dari rumah?

Bus itu pun pergi seketika.

 

Sebuah bus datang menjemput

tatkala aku duduk di sebuah halte.

“Kami bersedia mengantar siapa saja

yang hendak mengejar cita-cita,” kata Pak Sopir.

Aku tetap duduk saja.

Ah, cita-cita.

Sudah berapa lama kita tak saling menyapa?

Masihkah engkau merajuk padaku

yang tak lagi memedulikanmu?

 

Beberapa bus lain pun datang bergantian.

Siap mengantar ke rumah, mimpi, atau apalah.

Aku tak peduli.

Aku masih tetap duduk-duduk saja.

 

 

Lelaki Laba

Lelaki Laba tak pernah absen

menjelajahi kota dari

pukul delapan pagi

hingga lima sore setiap hari

 

Ia lemparkan jaringnya

ke segala arah, mencari jiwa

yang mungkin memerlukan jasanya

 

Lelaki Laba memang tak bisa

menyelamatkan jiwa layaknya

Pria Laba-laba

Yang mampu ia lakukan hanyalah

menyelamatkan diri keluarganya

dari rasa lapar dan derita

 

 

Drama Kehidupan

Gemintang di langit keheranan

melihat Bintang di bumi yang tak

menampakkan sinarnya

 

Ia murung, tak bergairah;

tunduk di hadapan romansa

yang menguasai jiwanya

 

“Tak usah sedih. Bermain saja dengan

kami,” bujuk sang Gemintang.

“Tidak mau. Bulanku ada di bawah sana.

Mustahil aku menelantarkannya sendirian,”

jawab si Bintang yang sok puitis itu

 

Tuhan pun tertawa, bertepuk tangan,

kemudian lanjut menikmati berondong

jagung kekalnya dari atas sana;

kehidupan hanyalah sebuah drama komedi

bagi-Nya

 

 

Panah

Tak bisa kuhindari lagi

Panahmu yang menghujam tanpa henti

Bangunkan hasratku yang sempat mati

Runtuhkan tembokku yang rapuh ini

 

Tak bisa kuacuhkan lagi

Panahmu menerjang setiap sisi

hati yang rela untuk kau curi;

hari yang setia untuk kau jalani;

diri yang rela untuk kau miliki

 

Panah, oh, panah

Kau yang runcing nan tajam

Mengoyak mataku yang lemah

Terperdaya akan parasmu

Aku mohon, tembaklah aku sekali lagi

 

 

Kertas Berwarna

Ibu kebingungan melihatku berjalan

ke sana-kemari selagi mencari sesuatu.

Jangankan Ibu, aku sendiri tak paham

bagaimana cara jitu demi mencari barang ini

 

“Apa yang sebenarnya kamu cari, Nak?”

“Aku mencari kertas warna-warni yang

mahal harganya.”

“Oh, yang di dalamnya ada

potret para pahlawan tengah

tersenyum manis seolah mengundang kita

untuk mencurinya?”

“Bukan mencuri, Bu. Biarlah itu menjadi

hobi para bapak-bapak berdasi.”

Ibu pun tersenyum kecut.

“Ibu paham, Nak. Percayalah, Ibu juga

setengah mati mencari barang tersebut

selama ini.”

 

Dengan diiringi doa ibu, aku pun berangkat demi

mencari barang tersebut di kota.

Siapa tahu saja ia

terselip di dalam kantong penguasa

yang semakin hari semakin giat

menimbun kertas berwarna ini

 

Ilustrasi: google

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *