Kisah di Sebuah Halte Bus
Sebuah bus datang menjemput
tatkala aku duduk di sebuah halte.
“Kami bersedia mengantar siapa saja
yang hendak melarikan diri dari rumah,” kata Pak Sopir.
Aku duduk saja.
Mau jadi apa aku kalau pergi dari rumah?
Bus itu pun pergi seketika.
Sebuah bus datang menjemput
tatkala aku duduk di sebuah halte.
“Kami bersedia mengantar siapa saja
yang hendak mengejar cita-cita,” kata Pak Sopir.
Aku tetap duduk saja.
Ah, cita-cita.
Sudah berapa lama kita tak saling menyapa?
Masihkah engkau merajuk padaku
yang tak lagi memedulikanmu?
Beberapa bus lain pun datang bergantian.
Siap mengantar ke rumah, mimpi, atau apalah.
Aku tak peduli.
Aku masih tetap duduk-duduk saja.
Lelaki Laba
Lelaki Laba tak pernah absen
menjelajahi kota dari
pukul delapan pagi
hingga lima sore setiap hari
Ia lemparkan jaringnya
ke segala arah, mencari jiwa
yang mungkin memerlukan jasanya
Lelaki Laba memang tak bisa
menyelamatkan jiwa layaknya
Pria Laba-laba
Yang mampu ia lakukan hanyalah
menyelamatkan diri keluarganya
Drama Kehidupan
Gemintang di langit keheranan
melihat Bintang di bumi yang tak
menampakkan sinarnya
Ia murung, tak bergairah;
tunduk di hadapan romansa
yang menguasai jiwanya
“Tak usah sedih. Bermain saja dengan
kami,” bujuk sang Gemintang.
“Tidak mau. Bulanku ada di bawah sana.
Mustahil aku menelantarkannya sendirian,”
jawab si Bintang yang sok puitis itu
Tuhan pun tertawa, bertepuk tangan,
kemudian lanjut menikmati berondong
jagung kekalnya dari atas sana;
kehidupan hanyalah sebuah drama komedi
bagi-Nya
Panah
Tak bisa kuhindari lagi
Panahmu yang menghujam tanpa henti
Bangunkan hasratku yang sempat mati
Runtuhkan tembokku yang rapuh ini
Tak bisa kuacuhkan lagi
Panahmu menerjang setiap sisi
hati yang rela untuk kau curi;
hari yang setia untuk kau jalani;
diri yang rela untuk kau miliki
Panah, oh, panah
Kau yang runcing nan tajam
Mengoyak mataku yang lemah
Terperdaya akan parasmu
Aku mohon, tembaklah aku sekali lagi
Kertas Berwarna
Ibu kebingungan melihatku berjalan
ke sana-kemari selagi mencari sesuatu.
Jangankan Ibu, aku sendiri tak paham
bagaimana cara jitu demi mencari barang ini
“Apa yang sebenarnya kamu cari, Nak?”
“Aku mencari kertas warna-warni yang
mahal harganya.”
“Oh, yang di dalamnya ada
potret para pahlawan tengah
tersenyum manis seolah mengundang kita
untuk mencurinya?”
“Bukan mencuri, Bu. Biarlah itu menjadi
hobi para bapak-bapak berdasi.”
Ibu pun tersenyum kecut.
“Ibu paham, Nak. Percayalah, Ibu juga
setengah mati mencari barang tersebut
selama ini.”
Dengan diiringi doa ibu, aku pun berangkat demi
mencari barang tersebut di kota.
Siapa tahu saja ia
terselip di dalam kantong penguasa
yang semakin hari semakin giat
menimbun kertas berwarna ini
Ilustrasi: google









