Beranda / Seni dan Sastra / Rombong Biru ~ Puisi Elje Story

Rombong Biru ~ Puisi Elje Story

puisi

Oleh: Elje Story*

 

Rombong Biru

Yang hatinya teguh Kaujagai dengan damai sejahtera,

sebab kepada-Mulah ia percaya. Yesaya 26:3 (TB)

 

Pilihannya hanya menyerah dan ikhlas

Hujan guyur jalurmu mencari rezeki

Yang tampak hanya lorong sepi

Harapan berkat tersapu deras hujan

 

Mendorong rombong biru dengan tekad dan hati yang teguh

Damai hadir sebening tetes hujan

Memberi kekuatan dalam keletihan

Hari ini belum pungkas; langkah percaya Tuhan selalu beserta.

 

Surabaya, 2021

 

 

Satu Payung Tiga Pelukan

Mesra bersama didekap hujan

Tiga bocah tenggelam dalam tawa

Seberangi genangan setumit

Tanpa rumus aljabar yang rumit

 

Payung warna cerah di hari kelabu

Kebahagiaan pecah dengan dingin tubuh basah

Berbagi hari bersama dalam segala kondisi

Satu payung tiga jiwa berpelukan.

 

Surabaya, 2021

 

 

Tanda Cinta

Udara masih dingin

Matahari belum masuk sif jaga

Aku terjaga dengan pernak-pernik kesibukan

Ditemani kopi yang mengepul

 

Seteguk demi seteguk meleleh masuk

Sedikit hangat memberi semangat

Meski rasanya kemanisan; lebih baik ada untuk sebuah tanda cinta.

 

Surabaya, 2021

 

 

Pikat Jerat

Kasih menguap dalam buih gelombang Pantai Kenjeran

Sayang tersulih nyeri tembus tulang; gatal tak bisa tergaruk

Hanya sesal dan ujar kutuk sedikit meredakan

 

Jiwaku telah kau seret kedalam celaka

Tubi-tubi rayu begitu memabukkan

Seolah ombak penuh hasrat cium bibir pantai

Aku telah terhasut dalam pikat jerat

Setelah tak ada nikmat; kamu pergi dengan hebat!

 

Surabaya, 2021

 

 

Sayur Kunci

Dari awal pertentangan sudah hiasi hubungan

Sayur sesegar ini kita tak sepakat menentukan nama

Sayur bening kataku; sayur kunci menurutmu!

 

Begitu segar meski bumbu bawang merah, bawang putih dan sedikit micin

Relatif sederhana dari pada semua pinta yang telah kau ujar

Garam sejumput memberi rasa sedap; namun tidak dengan hubungan ini

 

Bayam dan jagung manis telah terpotong rapi

Temu kunci setelah dicuci membaur dengan mesra dalam panci

Berbeda sekali dengan perlakuanmu kepadaku!

 

Asap mengepul dari paci timbulkan delusi bayangan bahagia

Atau aroma sayur ini kaburkan realita?

Ah, biarlah

 

Tinggal sesaat untuk ditiriskan

Hmm, begitu hangat di dada saat aku icip sesuap

Kurasa mampu gantikan pelukmu yang entah

 

Semua sudah siap untuk dimakan

Hanya sesuap yang berhasil kutelan

Nafsuku tiba-tiba hilang terganti kenangan

Terlintas bayangmu menyeduh segala kaldu dengan ramah; lalu pergi saat puas tinggalkan remah

Sayur kunci menjadi saksi kunci harapan pupus tak bersatu.

 

Surabaya, 2021

 

Ilustrasi: google

)* Penulis buku “Lelaki, Wanita, dan Musim Ketiga”, dan pegiat sastra di Asqa Imagination School

 

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *