Beranda / Esai / Opini / Pertumbuhan Penduduk dan Lingkungan yang Kian Tersakiti

Pertumbuhan Penduduk dan Lingkungan yang Kian Tersakiti

Hutan Gundul

Oleh: Rindy Nirwana*

 

Pertumbuhan penduduk tidak dapat dihindari dan tentu akan menyebabkan terjadinya perubahan jumlah serta dinamikanya di suatu wilayah. Seringkali pertambahan jumlah tersebut, banyak dikaji sebab merupakan hal yang penting dan berkorelasi dengan kesejahteraan masyarakat. Kesejahteraan yang dimaksud ialah hak dasar manusia yang meliputi ekonomi, sosial, budaya termasuk lingkungan yang aman. Memahami perkembangan dan pertumbuhan penduduk, sama halnya dengan menelaah kecenderungan perubahan masyarakat melalui populasi dan juga transisi demografi. Hal itu dimaksudkan untuk mempersiapkan masa depan yang lebih maju.

Demografi merupakan suatu power yang sangat berpengaruh terhadap peningkatan kesejahteraan manusia yang, panda kuncupnya mempengaruhi perencanaan kebijakan pemerintah terhadap masyarakat. Seperti yang dikatakan Malthus bahwa dorongan biologis yang menekan laju reproduksi itu merupakan penyebab pertumbuhan penduduk yang berefek terhadap meningkatnya angka kelahiran.  Akan tetapi, Malthus sendiri mempunyai cara untuk mengendalikan angka kelahiran yakni dengan mengendalikan moral, sepertihalnya menunda pernikahan dini.

Secara umum, pertumbuhan penduduk seyogianya memiliki pengaruh signifikan terhadap lingkungan. Adapun, secara serius, lingkungan yang tidak termanajemen dengan baik menyebabkan masalah yang krusial. Di antaranya;

Pertama, kurangnya ketersediaan air bersih. Semisal dalam suatu wilayah ada mata air yang mampu menghidupi 100 orang, maka setelah sekian tahun, berkembang menjadi 150 orang, alhasil, ketersediaan air bersih tidak akan tercukupi sehingga akan berpengaruh terhadap keberlangsungan hidup. Dengan melihat survei terbaru, menunjukkan bahwa jumlah air tawar yang ada di bumi hanya sekitar 20 persen, tidak hanya dikonsumsi oleh manusia saja melainkan turut bagi semua makhluk hidup. Dengan jumlah 20 persen tersebut, pada faktanya, hingga saat ini sudah banyak di beberapa wilayah yang masyarakat kekurangan air. Bahkan kekeringan.

Kurangnya air bersih, seringkali disebabkan oleh beberapa tindak perilaku manusia yang membuat air tersebut tercemar. Biasanya, air yang tak layak pakai terindikasi dari perubahan suhu dan perubahan pH (pH adalah drajat yang digunakan untuk menyatakan tingkat keasaman atau kebasaan pada suatu larutan/cairan). Pada kondisi normal pH air adalah netral yaitu berkisar 7, sedangkan pada kondisi tercemar pH air berkisar antara 4-6 atau 8-9. Selain itu tanda bahwa air tercemar juga bisa dilihat dari warnanya.

Kedua, pertumbuhan penduduk sangat berdampak besar pada berkurangnya ketersediaan ruang dan lahan pertanian. Demikian ini sebab, setiap manusia membutuhkan tempat tinggal. Secara berkala, jika manusia membangun tempat tinggal, maka akan menggerus lahan-lahan yang dianggap nyaman untuk hunian, termasuk lahan pertanian. Alhasil, dengan angka penduduk yang semakin meningkat, menjadikan kurva bangunan tempat tinggal menaik, yang berbanding lurus dengan kurangnya ketersediaan lahan pertanian. Yang berarti pula, pasokan bahan makanan akan turun drastis.

Ketiga, penurunan kualitas lingkungan sebab banyaknya limbah sampah. Seiring bertambahnya jumlah penduduk yang dibarengi dengan tingginya tingkat konsumsi, semakin banyak pula limbah yang dihasilkan. Banyaknya limbah sampah tanpa adanya pengelolaan yang tepat, secara langsung akan merusak lingkungan dan eksosistemnya. Bahkan, akan menyebabkan beragam bencana alam seperti banjir, tanah longsor, pemanasan suhu global, dll.

Keempat, rusaknya hutan. Hal ini disebabkan dengan alih fungsi lahan untuk memenuhi kebutuhan manusia, entah hunian, pembangunan pabrik, ataupun pembukaan hutan untuk lahan pertanian. Dari kasus ini, tidak heran jika banyak hewan-hewan yang mati dan bahkan berkeliaran ke rumah-rumah warga karena alam yang menjadi ruang tinggal dan tempat mencari makannnya rusak dan semakin terancam.

Beberapa contoh di atas merupakan sebagian kecil saja dari dampak-dampak besar lainnya yang berkelindan akibat pertumbuhan penduduk. Tidak bisa dipungkiri, pemerintah dan masyarakat harus bersama-sama melihat akar masalah serta merumuskan solusinya. Hingga saat ini, jika melihat dan mengacu terhadap apa yang dialami oleh masyarakat dan alam sekitar, masih banyak ketimpangan yang terjadi—bahkan terus berdatangan tiada henti. Hal ini menandakan bahwa pemerintah kurang bisa membuat kebijakan yang ramah lingkungan dan ramah manusia. Padahal, pemerintah memiliki instrumen, legal-formal, dan sokongan dana yang besar, dalam kaitannya untuk mengatasi beragam masalah yang berhubungan dengan penambahan jumlah angka penduduk.

Ilustrasi: google

 

*)Mahasiswa jurusan Sosiologi Agama UIN Sunan Kalijaga

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *